Perjalanan Belajar IELTS

Baik pada pertemuan kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya mendapatkan nilai IELTS 7.0. Memang ga tinggi-tinggi amat sih tapi mungkin saja hal-hal yang akan saya sampaikan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca sekalian. Sekarang lagi booming remaja-remaja, yang baru lulus atau yang nyari kerja ga dapet-dapet, mengejar skor IELTS tinggi untuk dapat sekolah ke luar negeri.

Saya akui bahwa dulu Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang paling saya khawatirkan karena saya paling tidak bisa kalau bicara atau menulis dalam Bahasa Inggris. Saat seorang guru bahasa inggris mengadakan ujian praktek, jantung ini rasanya selalu bedegup kencang. Sayangnya semakin lama bukan semakin membaik tapi malah berlanjut sampai kuliah. Materi-materi bahasa inggris kelihatan sangat susah dipahami. Tapi itu rasanya dulu, sekarang saya sangat-sangat membutuhkan bahasa inggris untuk menunjang studi dan pekerjaan. Dalam kesempatan kali ini saya mau share beberapa metode yang murah meriah berdasarkan pengalam saya selama ini:

1. Buat Study Group Bahasa Inggris

Menurut saya, Study Group adalah salah satu milestone penting saya ketika belajar IELTS. Saat itu, saya yang masih magang di sebuah law firm sangat terbantu karena membuat saya tetap in touch dengan yang namanya English. Ya, karena kesibukan seringkali membuat kita jadi lupa. Grup ini didirikan bareng-bareng dengan teman-teman kuliah yang sudah senior, baik yang sedang menempuh s2 maupun anak-anak s1 yang menginjak semester-semester akhir. Tipe mahasiswa S2 dan S1 angkatan akhir adalah orang-orang yang paling cocok diajak Karena dirasa mahasiswa macam begitulah yang punya waktu lebih longgar. Kami memang mempunyai kemampuan bahasa inggris yang berbeda-beda, tetapi itu tidak membuat kami menjadi sungkan dalam belajar. Karena salah satu kunci belajar bersama adalah jangan malu dan jangan takut untuk salah.

Grup kita ini kami buat simpel yaitu berdasarkan metode yang sederhana dan berkaitan dengan tema-tema yang sehari-hari kami alami atau diambil dari materi-materi IELTS dan TOEFL IBT. Grup ini lebih fokus ke peningkatan kemampuan speaking karena dirasa speaking-lah yang paling membutuhkan partner untuk berlatih. Ditambah lagi speaking seringkali menjadi titik lemah kami apabila mengikuti tes semacam IELTS atau TOEFL IBT. Akhirnya grup ini kami namakan dengan “Speaking Club”.

Metode yang kami gunakan dalam grup ini sebagai berikut: Dalam grup ada anggota yang bertanggung jawab untuk menyediakan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diprint ke dalam kertas dengan ukuran kecil-kecil. Selanjutnya kertas-kertas yang sudah berisi pertanyaan tersebut digulung dan dimasukan ke dalam kotak, yang kami sebut Pandora Box. Nantinya anggota yang menjadi speaker mendapat giliran untuk mengambil salah satu gulungan kertas berisi pertanyaan yang ada di dalam kotak. Setelah itu ia diminta berbicara selama 3-5 menit secara monolog dengan menjawab seluruh pertanyaan di kertas. Setelah selesai monolog, speaker diberi pertanyaan dari peserta-peserta lain secara acak, minimal 2 pertanyaan. Dan seperti itu terus berlanjut sampai giliran dari setiap anggota habis.

Memang sederhana sih, tapi apabila dipraktikan secara terus menerus saya yakin output-nya menjadi lebih besar lagi dan akan terasa setelah kesekian kali bertemu. Tiba-tiba saja kemampuan bicara dari masing-masing anggota meningkat drastis. Hal itu pula yang menjad salah satu sebab anggota dari grup ini juga kemudian sukses mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan mengikuti bermacam-macam international conference. Ajaibnya, grup ini pun masih berlangsung hingga tulisan ini dibuat. Akan tetapi mengigat kesibukan dari para anggota, kami tidak lagi bertemu dengan langsung melainkan dengan virtual forum (via Skype).

Eits belum selesai, ada juga grup kedua saya. Jadi setelah real test IELTS pertama pada akhir tahun 2014 yang nanti saya ceritakan. Saya juga bergabung dengan sebuah grup belajar yang memang bener-bener fokus ke peningkatan IELTS. Kami menyebut nama grup ini sebagai “IELTS Master“. Di dalam grup ini saya belajar dan sharing dengan teman-teman dalam banyak hal, gak cuma soal IELTS tapi juga beasiswa dan tetek bengeknya.

Metode belajar dalam grup ini benar-benar disesuaikan dengan skil-skil yang diujikan di IELTS mulai dari Listening, Reading, Writing dan Speaking. Agenda-agenda yang kami lakukan campur aduk, materinya berdasarkan pengalaman dari masing-masing anggota yang pernah belajar IELTS sebelumnya. Kami mencari cara dan metode yang paling efektif sekaligus fun dalam belajar. Grup ini pun sukses mencetak anggotanya menjadi awardee berbagai beasiswa luar negeri dan sebagiannya mengikuti short course ke luar negeri.

2. Kesempatan free IELTS course dan real test

Satu hal yang membuat saya bersyukur, saya mendapat dukungan dari salah satu program Dompet Dhuafa yaitu Beastudi Indonesia Preparatory School (BIPS). Saya mendapat kesempatan pertama untuk mengikuti program tersebut yang saat itu masih bernama UNIPREP (University Preparatory Program). Dalam program ini saya dapat fasilitas asrama, biaya hidup, pelatihan bahasa, pembinaan, real test IELTS. Saat mengikuti program ini, saya benar-benar merasa digembleng belajar bahasa inggris. Dalam waktu yang singkat, hanya tiga minggu dengan lingkungan full english. Didampingi juga dengan dua mentor orang inggris asli (namanya Mike dan Sam). Kami yang pada waktu itu bersepuluh orang ditarget untuk mencapai IELTS minimal 6.5.

Sayangnya, karena persiapan dan dasar yang kurang memadai akhirnya saya cuma dapat IELTS 6.0. pada real tes pertama saya di British Council pada akhir 2014 silam. Kesluruhan biaya tes di British Council Jakarta ditanggung oleh Dompet Dhuafa melalui program BIPS ini. Memang kecewa mendapat Skor 6.0, tapi tak apalah itu jadi awalan dari jalan panjang selanjutnya. Pulang dari BIPS, saya masih punya utang kepada Dompet Dhuafa untuk memenuhi jumlah skor IELTS sesuai kontrak yang telah disepakati. Saya merasa terpacu untuk menyelesaikan misi tersebut. Tapi terlepas dari hasil yang ada, saya sudah bersyukur mendapat keluarga baru disini.hehe

3. Belajar hingga Pare, Kediri

Sepulang dari progam BIPS di Bogor, motivasi saya belum padam!. Saya harus memenuhi janji saya kepada Dompet Dhuafa untuk mencapai IELTS dengan minimal skor 6.5. Saya saat itu berpikir bagaimana cara tercepat dan termurah belajar IELTS. Akhirnya saya kemudian memberanikan diri kembali lagi ke Pare Kediri untuk belajar IELTS di sebuah lembaga bernama Test English School.

Selama sebulan lamanya di Test English School ini, saya mendapat materi intensif mengenai IELTS. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam saya belajar IELTS yang diselingi dengan Full Test pada akhir pekannya. Pengajarnya sih bukan yang memang ahli atau native tapi lulusan-lulusan Test English School yang masih ingin tinggal di Pare untuk belajar. Pengajarnya lebih banyak memakai pola fasilitator karena kebanyakan berasal dari pengalaman mereka sendiri yang pernah mengambil tes IELTS sebelumnya.

Di lembaga ini kemampuan IELTS yang paling berkembang adalah Listening dan Reading karena hampir setiap hari mulai pukul 06.00 – 09.00 saya mendapat latihan tes Listening dan Reading dari Buku Cambridge. Dari setiap latihan tes tersebut, saya dapat memperkirakan tren kemampuan Listening dan Reading setiap harinya, sehingga kesiapan mental dalam menghadapi Listening dan Reading betul-betul diasah disini.

4. Mencoba mock test

Mock test ini juga tidak ada salahnya dicoba. Mock test ini biasanya diadakan oleh penyelenggara real test. Harganya sih bervariasi kalau saya dulu 250 ribu per test di Real English Yogyakarta. Nanti yang ngetes speaking dan writing biasanya mentor yang sudah berpengalaman dalam menangani soal-soal IELTS. Pada percobaan pertama disini saya sudah mendapatkan skor 6.5. Jelas semakin membuat kepercayaan diri saya naik.hehe

5. The Last IELTS Real Test

Akhirnya setelah tekad semakin bulat, saya memberanikan diri lagi untuk mengambil tes IELTS yang sebenarnya. Saya bersyukur masih terbantu secara finansial karena separuh biaya  tes masih ditanggung Dompet Dhuafa.

Dengan persiapan yang lebih memadai, saya mendaftar pada British Council Jakarta pada tes kali ini soal-soal kelihatan lebih mudah.hehe. Itulah yang akhirnya mengantarkan saya untuk mendapat skor 7.0. Pas sekali dengan persyaratan pada universitas tujuan saya Leiden University, Netherlands.

Di luar belajar dengan teman-teman dan mengikuti les, saya tetap harus menyempatkan diri belajar sendiri. Mau tidak mau memang mengorbankan waktu tidur. Tapi itu semua terbayar kok. hehe

2 thoughts on “Perjalanan Belajar IELTS

  1. Terimakasih banyak mas, tulisannya sangat membantu. Mohon tanya mas, bolehkah di share group “IELTS Master”-nya mas? Boleh bagi info tentang program Dompet Duafa-nya juga mas?
    terimakasih banyak. Semoga sukses selalu mas. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s