Kabut Asap dan Kebakaran

Selama hampir dua dekade terakhir, Indonesia memang terbelit dengan permasalahan pelik mengenai Kabut Asap akibat pembukaan Lahan baru di Hutan. Tapi di tahun 2015 ini, kondisi yang diberitakan jauh lebih parah daripada tahun-tahun sebelumnya. Tak sedikit kerugian yang timbul dari kebakaran hutan ini. Dari aspek sosial, masyarakat tidak bisa lagi melakukan aktivitas-aktivitas seperti biasanya, sekolah-sekolah diliburkan dan penerbangan diberhentikan untuk sementara. Tak hanya itu, dari aspek kesehatan, kabut asap juga menyebabkan gangguan pada pernafasan warga yang terkena dampaknya bahkan memakan beberapa korban jiwa akibat susahnya menghirup udara bersih.

Dalam menyelesaikan masalah kebakaran hutan dan kabut asap ini, kita perlu mengurai terlebih dahulu mengenai akar masalahnya, barulah kita bisa membuat solusi atas masalah tersebut. Masalah kebakaran ini, menurut saya, memang terjadi karena banyak hal akan tetapi bisa dirangkum menjadi faktor manusia dan faktor alam. Kedua faktor ini sangat berkaitan erat dengan parahnya musibah kebakaran hutan kali ini dan seolah kedua faktor itu saling mendukung.

Berbicara mengenai faktor manusia, kita tidak bisa lepas dari unsur budaya dan ekonomi. Masyarakat setempat biasanya membuka lahan baru untuk lahan bercocok tanam dengan cara membakar hutan daripada harus menebang pohon satu persatu, selain karena hemat biaya, cara dibakar juga lebih cepat membersihkan hutan agar bisa ditanami. Mereka menganggap bahwa hutan tidak ada yang menguasai, sejak dari jaman nenek moyang merekalah kebiasaan itu dilakukan. Disamping itu adapula yang melakukan pembakaran karena dorongan ekonomi. Industri minyak sawit ditempat itu, untuk menaikan jumlah produksi, memerlukan banyak bahan mentah yang dihasilkan dari pohon kelapa sawit yang ditanam di daerah itu. Sehingga dengan terbatasnya lahan kelapa sawit yang ditanami oleh Perusahaan memaksa mereka untuk memperluas lahan dengan membuka lahan baru yang sebelumnya merupakan hutan. Pembukaan lahan baru yang dilakukan pun dilakukan dengan cara-cara yang ilegal dan merusak alam.

Kemudian adanya faktor alam. Fakor ini pun seharusnya menjadi perhatian. Kondisi struktur tanah gambut yang terbakar memang menjadi tantangan tersendiri. Tanah gambut dapat menyimpan bibit bara api di dalam tanahnya sehingga sewaktu-waktu bara api yang tersimpan dapat membesar tanpa diketahui. Dengan adanya bara-bara api di dalam tanah menyebabkan pemadaman susah dilakukan oleh pihak berwajib. Umumnya, bara-bara api yang ada didalam tanah tidak ikut padam dikarenakan kondisi kering yang ada di dalam tanah gambut tersebut.

Kemudian mengenai solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kebakaran hutan ini dapat dibagi menjadi dua jenis solusi, jangka pendek dan jangka panjang. Solusi jangka pendek yang bisa dilakukan: pertama, menguatkan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran baik itu warga setempat atau korporasi. Semua orang dan korporasi yang terlibat dalam pembakaran hutan harus  bertanggung jawab atas kesalahannya. Kedua, melakukan pemadaman secara manual dengan memanfaatkan teknologi pemadam kebakaran. Pemadaman dengan air tak hanya bisa dilakukan lewat darat tetapi juga udara dengan menggunakan pesawat pengangkut air dan kemudian dijatuhkan di titik api. Selain itu juga bisa menggunakan teknologi rekayasa hujan, sehingga awan yang berada di atas titik api dapat menurunkan hujan buatan.

Di atas semuanya, solusi jangka panjang patut untuk diambil, di mana titik tekannya ada pada pencegahan. Saya percaya bahwa kebakaran sebesar apapun dapat dipadamkan dengan hanya seember air apabila waktunya tepat. Saya menyarankan solusi jangka panjang dari  sisi manusia dan alam itu sendiri. Pertama, dari sisi manusia, perlu dibuat suatu sistem sosialisasi dan pengawasan ketat kepada manusia sebagai individu dan korporasi yang dijalankannya mengenai manfaat hutan-hutan di Indonesia. Aparat penegak hukum di sektor kehutanan harus dididik agar berintegritas dan komitmen terhadap kelestarian alam. Kedua, dari sisi alam, perlu dibuat saluran-saluran air di dalam tanah-tanah gambut untuk mengurangi kekeringan, sehingga bara api yang masuk dapat padam dengan sendirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s