Kedekatan dan profesionalisme

peranDalam suatu penyelenggaraan acara atau event dari suatu organisasi tentu kita tidak akan terlepas dari yang namanya masalah baik itu yang (sebetulnya) bisa kita kendalikan dan yang diluar kendali kita. Saya sendiri sudah bisa dibilang cukup lah berpengalaman dalam kepanitiaan. Sifat saya yang tegas dan disiplin menjadikan acara bisa ter-manage dengan baik. Namun disini saya akan sharing sedikit mengenai penyelenggaraan suatu event yang disitu saya menjadi salah satu koordinator didalamnya. Semoga menjadi pelajaran bagi pembaca dan bagi saya terutama dalam meng-koordinatori kegiatan lainnya.

Dalam keseharian bergaul antar masing-masing anggota yang berada dalam organisasi/lingkungan dapat dipastikan akan menciptakan suatu kedekatan. Intensitas yang sering akan menimbulkan ikatan-ikatan persaudaraan dan, dalam hal ini, itu akan senantiasa terbawa dalam satu kepanitiaan. Pada awalnya saya sangat percaya bahwa lebih baik menggunakan “orang dalam” daripada merekrut “orang luar” yang belum jelas latar belakangnya. Ternyata tanpa disangka dalam perjalanan acara tersebut, kedekatan yang ada malah menghilangkan tindakan profesionalisme. Menjadi sarana menggampangkan. Banyak terjadi pemakluman disana sini. Si A memang begitu, si B memang lagi sibuk, dll. Amanah yang diberikan di awal tak dikerjakan dengan semestinya. Perlu didikte satu persatu tugasnya seperti anak kecil yang baru masuk SD.  Dan jelas-jelas saya orang yang tidak suka dengan hal seperti itu. Bicara amanah tentu juga bicara totalitas. Sejauh mana amanah dikerjakan tergantung dari frame totalitas dari seseorang dan saya tidak mendapati di diri mereka. Saya memang mengakui bahwa SDM yang ada tak terlalu qualified ditambah pula sedari awal kultur yang ada dan terbangun sudah tidak sehat. Tapi karena sudah dipilih, ia haruslah konsekwen dengan apa yang sudah disanggupinya. Akhirnya orang-orang itu menjadi orang yang tidak bisa dipercaya lagi. Amanah yang diberikan menjadi mubadzir. Dia tidak paham dengan amanahnya.

Untungnya hal itu, Berbanding terbalik dengan orang-orang yang direkrut dari luar. Yang pada awalnya saya ragukan, malah menjadi orang-orang yang bisa saya andalkan. Malahan lebih baik orang luar yang dibawa ke dalam dari pada memberdayakan orang dalam yang susah diatur. Solusi yang terpikir oleh saya adalah diawal perlu ada wawancara untuk menanyakan komitmennya dari awal. Dipastikan betul bahwa orang tersebut mempunyai dedikasi terhadap setiap amanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s