Pesantren Mahasiswa Sebagai Sarana Pembentukan Spiritually Quotient (SQ)*

 

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely (Lord Acton)

Mengawali tulisan ini seorang ahli hukum, Lord Acton, berpendapat bahwa semakin kuat posisi atau wewenang seseorang akan semakin cenderung pula melakukan tindakan otoriter, sewenang-wenang dan korupsi. Hal ini selaras dengan apa yang setiap hari kita lihat di berbagai media baik cetak maupun televisi dewasa ini, masyarakat dihadapkan dengan tingkah polah para pemimpin negara yang tidak bisa dibilang baik. Para pemimpin –eksekutif, yudikatif maupun legislatif- yang seharusnya melayani dan mengayomi rakyat malah bertindak sebaliknya, semena-mena dan melawan hukum.

Alam demokrasi yang sudah lama dicita-citakan oleh Founding Fathers negeri ini nampaknya masih jauh dari harapan, secara kasat mata dapat dilihat disekeliling kita dengan banyaknya pemimpin yang mengambil hak rakyat dengan paksa. Senada dengan hal tersebut salah satu lembaga internasional, Economist Intelligence Unit (EIU), telah melakukan survey ke berbagai negara, termasuk Indonesia didalamnya, dalam kaitan penerapan demokrasi suatu negara.

Tabel Indeks Demokrasi Indonesia[1]

Kategori 2008 2010
Proses pemilu dan pluralism 6,92 6,92
Fungsi pemerintahan 6,79 7,50
Partisipasi politik 5,00 5,56
Budaya politik 6,25 5,63
Kebebasan sipil 6,76 7,06
Skor keseluruhan 6,34 6,53
Peringkat 69 60

 

Dalam data dua survey terakhir pemerintahan Indonesia belum bisa dibilang demokratis bahkan lebih mendekati kepemimpinan tirani. Dalam tabel Indonesia memang terlihat adanya peningkatan, namun tentu belum cukup untuk mengubah penilaian masyarakat terhadap pemimpin negeri ini. Indonesia yang berada di peringkat ke-60 memang membuat berpikir ulang tentang perbaikan apa yang sudah dilakukan para pejabat selama memimpin negeri ini. Apalagi Indonesia kalah dari Thailand (57), dan Papua Nugini (59), bahkan jauh tertinggal oleh Timor Leste (42).[2]

Setelah lebih dari separuh abad Indonesia merdeka keadaan secara umum tidak banyak berubah. Waktu-waktu yang dilalui negara ini tak ubahnya hanya metamorphosis dari era kolonialisme menjadi neokolonialisme dimana para pemimpin negeri ini semakin lihai dan pintar saja dalam berbuat maksiat di Indonesia. Sampai kini sebagian pelaku kejahatan memang sudah diadili tapi masih banyak sekali kasus pelanggaran hukum yang tak “terendus” oleh penegak hukum hingga para pelakunya masih lenggang kangkung di berbagai lembaga negara. Seperti baru-baru ini Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Reydonnyzar Moenek bahkan mengungkapkan bahwa sebanyak 173 kepala daerah di Indonesia, terbelit kasus hukum, khususnya korupsi. Ini merupakan data sejak 2004 hingga 2012 ini. Dari jumlah itu sekitar 70 persen di antaranya yang telah diputus pengadilan dan sudah harus diberhentikan.[3] Tak ada keteladanan sama sekali.

Tidak ada yang menyangkal bahwa para pemimpin yang sekarang menjabat atau terkena kasus hukum adalah orang yang mempunyai kecerdasan intelektual dan emosi yang tinggi, namun sayangnya sebagian besar dari mereka tidak bisa menggunakannya dengan baik untuk mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. Al Quran Adz Dzariyat:56 disebutkan tentang tugas manusia “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Selaras dengan itu, manusia telah mengambil amanah untuk beribadah dan mengelola bumi salah satunya sebagai pemimpin. Amanah yang dengan penuh keberanian dipikul setelah seluruh peserta alam raya, langit, bumi dan gunung-gunung mundur teratur merasa tak mampu memikulnya. Memimpin merupakan amanah juga dan harus dilakukan dengan baik dan benar. Namun pesan dari Alloh SWT ini hanya menjadi semacam angin lalu ditelinga pemimpin negeri ini. Kini para pemimpin sudah lupa kewajibannya.

Disadari atau tidak, para pemimpin yang sekarang duduk di singgasana kekuasaan dahulunya merupakan mahasiswa yang aktif dan sering mengkritisi kebijakan dari para pemimpin di eranya, demo ke jalan hingga aksi ke senayan pun dilakoni. Lalu bagaimana kelanjutan dari idealisme yang sudah dipupuk semasa mahasiswa. Para aktivis ini hanya karena tertarik iming-iming kekuasaan dan jabatan tinggi, tanpa persiapan masuk sistem yang rusak, maka ikut rusak pulalah mereka. Persoalannya menjadi menarik untuk dianalisis karena banyaknya pemimpin negeri yang notabene mantan aktivis malah tersandung kasus hukum.

 

Antara IQ, EQ dan SQ

Semakin luar biasa permasalahan suatu bangsa, dibutuhkan pula pemimpin yang luar biasa. Orang yang akan menjadi pemimpin saat ini haruslah orang yang memiliki kecerdasan yang holistik (menyeluruh), yang dalam klasifikasi umum dikenal tiga kecerdasan yakni IQ (Intelligence Quotient),EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritually Quotient). IQ berkaitan dengan kemampuan intelegensi seseorang ketika memimpin, IQ berperan dalam kelancaran pekerjaan secara teknis dan strategis. Sedangkan EQ menurut Daniel Goleman, meliputi kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan tersebut mencakup lima komponen yaitu pengenalan diri, pengendalian emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berempati dan kemampuan mengendalikan hubungan antar sesama manusia. IQ menentukan sukses seseorang sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosi (EQ) memberi kontribusi 80%.[4]

Dari kedua kecerdasan tersebut kita mengetahui bahwa pentingnya EQ yang menyumbang ¾ dari kesuksesan seseorang, tetapi dari penelitian sepuluh tahun terakhir ternyata adanya EQ dan IQ pun belum cukup untuk mengatasi keadaan saat ini. Pernyataan yang seringkali muncul adalah bagaimana jadinya kalau EQ dan IQ tersebut malah digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Hitler atau Stallin. Bisa saja didepan seluruh rakyat yang dipimpinannya mereka dapat tercitrakan baik secara intrapersonal dan interpersonal serta mempunyai intelegensi tinggi, namun dibalik itu semua mereka menyimpan niat keji terhadap rakyatnya yang hingga kini kita dapat membaca di buku sejarah tentang pembantaian ribuan manusia tak berdosa.[5] Tentu tidak cukup hanya dengan dua kecerdasan itu.

Selain dua kecerdasan itu, dibutuhkan pula Kecerdasan Spiritual. SQ memang penting tak hanya untuk hidup sehari-hari tetapi juga dalam kaitannya dengan kepemimpinan. Inilah yang selama ini telah banyak dilupakan oleh para pemimpin negeri ini. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula. Dengan adanya kesadaran beragama bahwa setiap yang kita lakukan selalu dalam pengawasan Alloh SWT, menimbulkan sikap muraqabah. Sebesar apapun iming-iming dalam berbuat jahat yang ada dalam suatu wewenang, pemimpin akan tetap menjadi amanah. Disamping itu, SQ ini jugalah yang menjadi krisis akut dalam pribadi mahasiswa-mahasiswa muslim di Indonesia saat ini.

 

Kawah Candradimuka Pengembangan SQ

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Alloh mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi.[6] Seperti dalam analisis penulis bahwa penting adanya menjadi pemimpin yang berkarakter utuh. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan “celupan” agar kecerdasan spiritual dapat terpahat dengan baik dan sistematis.

Dalam mitologi masyarakat jawa, dikenal kawah candradimuka. Suatu tempat penggemblengan diri, dimana seorang calon pahlawan dalam pewayangan (Gatotkaca) ditempa di tempat tersebut agar lebih kuat hingga mampu menghadapi serangan Raksasa buas, mahkluk keji yang berbuat kerusakan, yang sedang menyerang dunia dewa. “Kawah” inilah yang diperlukan para mahasiswa muslim saat ini.

Dalam historis pendidikan di Indonesia mengenal adanya pesantren, yang termasuk lembaga pendidikan tertua, bahkan dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa pesantren memiliki peranan penting. Inilah yang coba penulis tawarkan sebagai sarana pembentukan SQ bagi mahasiswa, pesantren bisa diibaratkan sebagai kawah candradimuka dimana mahasiswa ditempa agar menjadi pribadi yang matang secara mental dan spiritual.

Universitas memang merupakan poros pembentukan peradaban, sebagai “mesin” pencetak manusia-manusia unggul dalam intelektualitas dan emosional melalui berbagai subsistem derivatifnya semisal organisasi mahasiswa, kelompok kajian keilmuan, kegiatan kuliah, penelitian dll. Namun ada hal lain yang belum dimasukan yakni kematangan secara spiritual, maka dari itu dibutuhkan tempat atau sarana yang tepat sehingga bisa mencetak manusia yang unggul tidak hanya dari sisi keilmuan, tetapi juga dari sisi moral dan ruhani. Hal ini tentu bukan bukan untuk menandingi apa yang diajarkan di lingkungan kampus, tetapi lebih untuk melengkapi dari apa yang sudah diajarkan di kampus.

Terdapat beberapa aspek yang layak mendapat perhatian mengenai pesantren sebagaimana yang diungkapkan oleh Raharjo (1985) bahwa;Pertama, pendidik bisa melakukan tuntunan dan pengawasan langsung, di sini ia menekankan aspek pengaruh sistem pondok dalam proses pendidikan.Kedua, ia melihat keakraban hubungan antara Santri dan Kiai, sehingga bisa memberikan pengetahuan yang hidup.Ketiga, ia melihat bahwa pesantren ternyata telah mampu mencetak orang-orang yang bisa memasuki semua lapangan pekerjaan yang bersifat merdeka. Dalam artian tidak terikat oleh sistem yang ada, karena dengan pemahaman agama yang baik ia sudah bisa membedakan mana yang bathil dan yang haq.[7]

Konsep pesantren mahasiswa yang penulis tawarkan disini bukanlah seperti pesantren tradisional yang kegiatannya melakukan kajian kitab-kitab klasik dan model pengajarannya pun sebagaimana yang lazim menerapkan metode sorogan[8] dan wetonan[9]. Dengan datangnya era baru globalisasi, pesantren dituntut dapat melakukan revitalisasi dan segmentasi yang lebih tinggi agar tidak tertinggal dalam menarik minat belajar islam dan mencetak pemimpin muda yang tahan banting.

Secara rinci model pesantren yang penulis tawarkan nantinya memang mengambil objek mahasiswa yang akan ditempatkan dalam suatu asrama secara bersama-sama dalam satu kawasan, bersama guru dan beberapa senior sebagai supervisor, agar hubungan yang terjalin antara santri (mahasiswa), senior (supervisor) dan guru tidak sekedar hubungan formal. Dengan demikian kegiatan pendidikan keislaman, diluar kuliah formal dan kegiatan mahasiswa lainnya, dapat berlangsung intensif selama di asrama, dari pagi dan malam hari. Dalam teori pendidikan diakui bahwa belajar satu jam yang dilakukan lima kali lebih baik daripada belajar selama lima jam yang dilakukan sekali. Selain itu adanya proses pembiasaan akibat interaksi setiap saat berakibat integrasi antara proses pembelajaran dengan kehidupan keseharian dan ibadah harian (amalan yaumiah).

Kegiatan dalam pesantren pun diharapkan berbeda, tak hanya belajar agama secara saklek sehingga tidak relevan dengan tuntutan sosial sekarang. Program-program didalamnya haruslah lebih mengkorelasikan antara nilai-nilai keagamaan dan praktik masalah sosial kenegaraan yang ada, bisa berupa kegiatan kajian sosial politik, diskusi dengan tokoh lokal maupun nasional, diskusi mengenai masalah kenegaraan, adanya training kepemimpinan (public speaking, keterampilan menulis, motivasi, organisasi dll), perluasan jaringan, kompetisi-kompetisi keilmuan dan tak ketinggalan kajian keislaman kontemporer.

Kontrol dan monitoring juga penting terhadap santri, nantinya dilakukan oleh supervisor yang bertanggung jawab kepada guru diasrama tersebut. Monitoring bisa terhadap keseharian ibadah santri, program rutin asrama, aktivitas akademik dan nonakademik. Terakhir, pesantren mahasiswa ini nantinya bukan hanya mentransfer informasi dan pengetahuan semata (aspek kognitif) dengan melalaikan aspek afektif dan psikomotorik agar sejak mahasiswa sudah bisa produktif dalam berkarya.

 

Menjadi Pemimpin Islami  

Salah satu ulama, Ibnu Taimiyah, pernah berkata “Wajib diketahui bahwa memimpin urusan manusia termaksud kewajiban terbesar agama, bahkan tidak akan tegak agama kecuali dengannya. Sesungguhnya kepentinggan anak-anak Adam tidak akan tercapai secara sempurna kecuali dengan perkumpulan, karena mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain”.

Tujuan akhir dari hasil pengkaderan di pesantren itulah nantinya akan melahirkan “generasi baru” mahasiswa yang diharapkan punya kecerdasan integral dan siap mengaktualisasikan ilmu-ilmunya dan berkontribusi dalam bidang keilmuan, sosial dan kenegaraan. Calon-calon pemimpin itulah yang kelak akan memberikan “warna islam” dalam kancah demokrasi di negara ini. Pemimpin yang dibutuhkan sekarang adalah pemimpin islami bukan pemimpin muslim. Pemimpin muslim hanya sekedar beragama islam, sedangkan pemimpin islami lebih disibukkan untuk memperjuangkan kepentingan bangsa dan generasi masa depannya dengan kerja-kerja nyata dan tak lupa menebarkan keindahan islam sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

* Juara 1 dalam National Islamic Essay Competition, BPPI FE UNS.

[1] Economist Intelligence Unit, dapat diakses pada situs http://www.eiu.com. Indeks Demokrasi dibuat berdasarkan 60 indikator yang dikelompokan dalam lima kategori berbeda, masing-masing dengan dua atau tiga alternatif jawaban yang diberikan. Lima kategori indeks, yang semua tercantum dalam laporan, kemudian dirata-rata untuk menentukan indeks demokrasi masing-masing negara.

[2] Burhanudin Muhtadi, Opini Kompas: Defisit Demokrasi, harian kompas, 12 Mei 2011.

[3] http://indonesia.ucanews.com/2012/04/16/ 173-kepala-daerah-tersandung-kasus-korupsi / diakses tanggal 2 Agustus 2012, pukul 13.00 WIB.

[4] http://www.alifbraja.wordpress.com/2012/07/06/kecerdasan-spiritual/, diakses tanggal 4 agustus 2012 pukul 14.00 WIB.

[5] Ary Ginanjar Agustian, 2001, Rahasia Sukses Membangun kecerdasan emosi dan spiritual ESQ berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 rukun islam, Jakarta, Arga Wijaya Persada, hal.56.

[6] Salim A. Fillah, 2007, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Yogyakarta, Pro-U Media, hal. 107

[7] http://www.pelajarnujogja.or.id/2012/01/peran-pesantren-bagi-agama-budaya-dan-akhlaq-bangsa/, diakses tanggal 4 Agustus 2012 , Pukul 13.00 WIB.

[8] Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kiai atau pembantunya (badal. Asisten kiai) seperti belajar secara individual.

[9] Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan sesudah melakukan shalat fardu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s