Jadi quiter, camper, atau climber?

gunung-lawu-terdapat-antara-provinsi-terbaruJumat sore, kala itu terik matahari sangat menyengat. Selepas sholat jumat aku langsung menuju kamar untuk membaringkan sebentar badan yang sudah terasa penat. Tak ada sejam berselang aku terbangun, ada beberapa kawan yang hadir dengan mobil isi empat orang. Mobil yang ditinggal pemiliknya yang sedang ke luar kota ternyata jadi dipinjam untuk sarana transportasi ke tujuan pendakian. Mereka datang bukan tanpa alasan, mereka menanyakan kepastian akhirku ikut naik gunung. Ajakan awalnya kurang lebih dua minggu lalu, sebelum saya cedera punggung. Memang sebelum itu saya juga ikut rapat pendakian. Namun, rupanya beberapa hari setelah itu saya futsal dan terjatuh karena menginjak bola. Nah, karena sisa sakit itulah yang masih terasa aku mencoba menolak dengan halus. Bukan sekali mereka mengajak, sudah beberapa kali dari seminggu lalu mereka merencanakan mendaki.

Tetapi akhirnya diputuskan saya ikut, dengan menyiapkan alat seadanya yang saya pakai di pendakian sebelumnya (belum saya kembalikan ke pemiliknya). Alat-alat dan pakaian selesai di packing, lalu dimasukanlah ke mobil yang sudah penuh juga dengan barang-barang kawan yang lain. “Nanti makanan bisa dibeli di jalan”, pikirku. Berangkatlah kita untuk mendaki Gunung Lawu yang tingginya sekitar 2500 mdpl di wilayah Karangannyar-Magetan.

Kami sampai di tujuan disambut dengan hujan deras. Di kaki gunung Jalur Pendakian Cemoro Kandang, kami berteduh di salah satu warung penjual makanan. Beberapa mie dan kopi habis kami santap, sekalian menunggu hujan reda. Rasanya ada yang kurang, lalu saya tanya mana teman saya yang satunya lagi, yang menggebu dan sudah siap mendaki sejak dari pekan lalu. Ternyata pada hari-H ada keluarganya yang datang dari luar provinsi, jadi mau tak mau harus ia temenin. Padahal tas, pakaian, amunisi semuanya sudah dipacking namun namanya nasib sekali lagi berkehendak lain. Ia tak jadi berangkat, sodara sodara.hahah

Namun lain dengan saya yang awalnya memang sudah tak berniat naik rupanya malah bisa naik.haha sekali lagi itulah takdir…Saya ini orang yang tak punya modal apapun sebetulnya kalo naik gunung. Tas carier tak punya, senter tak ada, kompor gas apalagi kecuali SB (Sleeping Bag) yang memang saya beli dulu karena mau KKN ke Papua (alasannya multifungsi sih). Saya selama mendaki gunung memang tak pernah keluar lebih dari 100 ribu, bisa 75 ribu atau bahkan Cuma 50 ribu. Bisa dibilang saya cuma modal makanan dan pakaian…hmm dan badan sehat tentunya…hehe. Karena memang tak terlalu urgen saya akali dengan meminjam barang dari teman yang hobi naik gunung, yang penting selesai memakai harus dibersihin katanya. Saya iyain ajadeh. Kemudian, pada saat sebelum naik, ada insiden dan satu teman mengundurkan diri naik. Jadi yang bisa naik hanya empat orang. Tapi tak apalah. Empat orang juga bisa, yang penting jangan sendirian.

Pendakian kali ini memang rasanya berbeda karena biasanya saya mendaki dengan teman-teman yang “umum” kini saya mendaki dengan teman-teman yang aktif di kegiatan keagamaan. Mulai pukul 18.00 kami mulai naik dari basecamp Cemoro Kandang. Sedikit demi sedikit kami menyusuri jalur.

Share sedikit pengalaman, bagaimana cara menguji karakter orang itu salah satunya dengan naik gunung. Punya teman, kenalan baru? itu gampang tapi nyari teman baik itu yang susah, ya kan. Nah momentumnya bisa didapat naik gunung. Ada nih orang yang jalan sendirian karena udah hapal jalur atau memang kondisi fisik yang prima meninggalkan temannya yang dibelakang dengan seenaknya (ini tipe orang egois). Ada yang pelit makanan. Ada yang ga mau meringankan bawaan dengan bantu bawa barang teman. Ada yang nanya nanya terus kapan sampai, rasanya kok ga sampai sampai ya (ini tipe pengeluh). Hal hal seperti itu akan bisa kita temui saat naik gunung dengan tim. Dan ternyata, kawan-kawan barengan saya ini orangnya Alhamdulillah baik-baik semua, yang tak segan membantu dan pengertian.

Selain itu, naik gunung juga menguji mental seseorang karena tak hanya kekuatan fisik yang dipakai disini. Mungkin fisik akan kerasa sangat lelah pada pos-pos tiga atau empat, tapi tekadlah yang akan jadi pendorongnya agar kaki ini bisa melangkah lebih jauh dari biasanya, mata ini bisa memandang lebih lama dari biasanya, kepala lebih lama tegak dari biasanya dan badan lebih tegap dari biasanya. Saya jadi ingat quote dari kawan saya yang biasa naik gunung, Mas Pras namanya, ia bilang “capeknya fisik dimulai dari capeknya hati”. Dan itu saya rasakan betul setiap kali mendaki gunung. Adapula ketika kita dilanda kesulitan, maka tekadlah yang akan menjadi penyangga utamanya. Contohnya ketika pada pendakian ini, pada jalur antara pos 2 dan 3 ada tanah diatas yang longsor menimpa jalur. Ada satu kawan yang minta balik saja, memang kalau melihat jalur yang dilongsori itu dipinggirnya ada jurang dalam dan gelap. Bikin takut. Tetapi kawan saya satunya, yang didapuk sebagai koodinator tetap memantabkan hati untuk terus sampai puncak. Ia melewati jalur tersebut dengan posisi membelakangi jurang (bayangin aja, sendiri..heh). Great! dan ternyata bisa (kalo ini pengalaman yang bicara). Lalu diikuti oleh yang lain, termasuk kawan yang minta mundur tadi dan kemudian saya. Dan semuanya melanjutkan perjalanan, dengan jantung yang masih berdegub tak teratur. Tapi tentu jangan nekat dan tanpa persiapan, itu minta mati konyol namanya. Semuanya harus dikalkulasi dengan matang. Berbeda antara bertekad keras dan nekat. Buktinya, saya baca di internet ada 1 orang yang meninggal seminggu setelah saya mendaki itu. Mayatnya ditemukan di pos bayangan (antara pos 2 dan 3), tanpa pakaian dan alat-alat yang menunjang. Diindikasikan ia mengalami kelelahan berat hingga hipotermia. Ini namanya mati konyol betulan.

Saya sampaikan diawal bahwa pendakian ini dilakukan dengan kawan-kawan yang punya dasar keagamaan yang baik, boleh dibilang pendakian ini dilakukan dengan cap islami.hehe…Maklum para pendakinya anak-anak pondok dulunya. Hal itu bisa dilihat pada prakteknya sholatnya tertib, pake sholat tahajud pula, banyak doa, ceramah dan saling menceramahi. Rasanya bener-bener tadabur alam boi. Banyangkan saja kalau ceramah mengenai kebesaran Allah di masjid atau mushola kampus, rasanya biasa kan. Nah, sekarang dilakukan ketika kamu berada di dalam pendakian gunung yang menjulang setinggi 2500 mdpl. Kerasa bro bedanya. Jadi lebih tahu betapa ‘maha’nya Allah dalam segala ciptaan-Nya. Mungkin bisa berlipat-lipat khusu’ nya kalo sholat disini. Dan terlihat pula pemandangan wilayah Magetan dari atas gunung, mirip kalo kalian naik pesawat lalu liat ke bawah. Indah gemerlap lampu kota.

Pukul 02.00 dini hari sampai di pos 3, tak lupa setelah itu mampir di mata air kecil, jernih, yang memancar yang berada di jalur tersebut. Botol-botol air yang sudah kosong kami keluarkan untuk diisi. Air gunung itu langsung kami minum dengan pelan-pelan, seketika rasa sejuk dan segar menjalar diseluruh badan. ini baru namanya mata air pegunungan. Aqua mah kalah, walaupun ia air pegunungan tapi udah dicampur-campur lewat proses penyaringannya. Namanya air gunung ya langsung bisa diminum. Betul kan.

Pukul 07.00 pagi, setelah 13 jam perjalanan kami baru menemui titik puncak gunung lawu. Kami memang dari awal berencana berjalan dengan santai, tanpa harus tergesa-gesa karena lambat laun akan sampai juga. Dan memang kami akhirnya sampai diatas. Waktu yang ada kami gunakan untuk istirahat dan memasak perbekalan. Nantinya kami akan langsung turun karena ada salah satu kawan yang harus segera berangkat ke Senayan, Jakarta untuk urusan kerjaan. Praktis dan kawan-kawan lain tak pernah tidur dalam hari hari itu. Kami lalu pulang lewat jalur yang berbeda, yakni Cemara Sewu yang ternyata berat gila, jalurnya memang lebih pendek dan sudah ditata dengan batu mirip tangga sampai pos 3 namun, kalau turun dengan tas segede badan, maka kaki bebannya berlipat. Kaki saya sampai lecet lecet walau sudah pakai sendal gunung. Apalagi teman saya yang pakai sepatu, saya lihat sewaktu sholat di Masjid bawah ternyata udah ngapal-ngapal.hiii.

Sampai di bawah pukul 16.30, di basecamp jalur Cemoro Sewu yang kurang lebih memakan waktu 8-9 jam. Jalur Cemoro Sewu ini sudah masuk wilayah Magetan, karena gunung Lawu sebetulnya adalah batas alam dari wilayah administratif daerah. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki ke arah basecamp jalur Cemoro Kandang tempat berangkat tadi karena mobilnya kami titipkan disana. Jaraknya tak terlalu jauh karena kedua jalur tersebut dekat dengan gerbang perbatasan. Kami pulang ke Yogyakarta untuk melanjutkan aktifitas di keesokan harinya.

Dari mendaki gunung filosofi penting yang bisa juga diambil adalah bisa digunakan untuk membuat tipologi manusia berdasarkan pendakiannya. Apakah ia menjadi quiter, menjadi camper atau climber. Ini bisa dianalogikan kepada kita dalam menjalani hidup. Pertama, ketika kita memilih menjadi qiuter maka kita belum sampai ujung sudah give up dan memutuskan untuk turun. Artinya kamu keluar dari tantangan yang harusnya dihadapi. Hidup ini penuh tantangan yang mau ga mau harus dihadapi. Ya ga?. Menjadi quiter ini pun pernah saya rasakan sebelumnya ketika saya mendaki di gunung yang sama tetapi di jalur yang berbeda (masih jalur resmi), jalur yang paling sulit, menantang dan melelahkan yakni jalur Candi Cetho. Saat itu masih hujan deras, dengan persiapan seadanya kami memutuskan naik. Dalam perjalanan kami memang merasakan nampaknya gunung ini sedang dilanda badai, untung saja banyak pohon di sekitar yang menahan hingga badainya hanya terasa di dahan-dahan dahan pohon yang menjulang, anginnya tidak sampai bawah. Dengan kondisi medan yang sempit plus becek karena air hujan mengalir juga di tanah yang menjadi jalur. Keadaan saat itu dingin menusuk tulang kami mencoba terus berjalan. Hingga akhirnya di tengah perjalanan ke pos 3, ada salah satu anggota tim yang memutuskan ingin kembali dan itu merembet ke beberapa kawan lain yang mendukung. Singkat cerita diambilah keputusan untuk balik kebawah semuanya. Saat itu saya merasa masih kuat, tetapi malah menjadi quiter. Padahal tim yang beranggotakan banyak masih bisa di pecah menjadi dua (mau terus dan mau turun saja). Tapi ah sudahlah, setidaknya saya mengingkarinya dalam hati.

Kedua, adalah menjadi camper, itu kalau berhenti ditengah ketika menghadapi tantangan. Kita cepat puas. Lalu memutuskan “Ah ya sudah sampai disini saja usahaku, sudah cukup sepertinya dengan begini saja kan aku sudah aman”. Kalau naik gunung dengan gaya ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Tetapi dalam hidup kita seringkan berlaku seperti ini. Ya memang sah sah saja. Namun, dengan hidup yang sekali ini apakah kita tidak rugi kalau tidak mengerahkan segala daya yang kita punya. Bisa saja yang kita rasakan nantinya lebih nikmat dan puas.

Ketiga adalah menjadi climber, inilah yang terpenting. Orang harus menjadi climber untuk mencapai puncak. Ia menghadapi semua tantangan di depannya, bukan malah cepat puas atau memalingkan diri. Inilah jalan para pendaki sejati yang tak patah arang dalam menapaki jalan kehidupan. Alam mengajarkan banyak hal kepada kita untuk senantiasa mengambil pelajaran darinya.

Lalu selama ini jadi apakah kita. Quiter, Camper or Climber?. Kita yang bisa menjawab sendiri.

 

Klaten, 07 Juni 2014 pukul 23.00 WIB

Home Sweet Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s