SAONEK: Dulu, Kini dan Nanti? (part 2)

798297_10201743148362507_1790718448_oPernah ada masanya Pulau ini menjadi Sentra penyebaran agama islam di wilayah papua, khususnya bagian kepala burung yang sudah ada sebelum negara Indonesia merdeka. Jejak-jejak keislaman masih bisa kita lihat ada makam-makam imam pendahulu di belakang pulau dan makam di bawah laut yang bisa di lihat manakala laut sedang surut. Pak Imam Zen pernah cerita, bahwa dahulu banyak anak-anak yang ingin mengaji selalu di titipkan ke Saonek untuk belajar. Masjid di Saonek konon sudah berdiri bahkan sebelum indonesia merdeka. Selain pendidikan keagamaan, pulau ini juga terkenal dengan pendidikan formalnya. Sejak awal di pulau ini sudah terdapat beberapa institusi pendidikan formal yakni PAUD, TK, SD, SMP. Semua itu merupakan satu-satunya institusi pendidikan formal di wilayah Raja Ampat dulunya.

Lambat tapi pasti, keadaan pulau yang sekaligus kampung ini banyak berubah. Mulai dari geografisnya dimana pulau ini semakin tergerus oleh ombak yang tak henti menerjang.. Tanggul-tanggul yang dibuat pemerintah pun seakan tak mampu menjadi penghambat ombak itu. Hanya tersisa hutan mange-mange (baca: bakau) yang bertahan untuk tetap melindungi kampung dari abrasi. Dari sisi manusianya, banyak pemuda kampung yang lebih memilih pindah ke kota atau ke daerah lain, sorong misalnya, untuk bersekolah atau mencari pekerjaan yang menjanjikan kesempatan lebih besar bagi mereka. Tak cuma pemuda, warga dewasa pun sebagian ada yang sudah pindah kediaman sehingga banyak rumah-rumah kosong karena yang empunya pindah ke Pulau sebelah. Beberapakali terjadi konflik horisontal yang muncul tapi tak pernah menjadi besar karena selalu bisa diredam bersama. Pasar yang dulunya ada di sebelah timur Masjid pun sudah tidak ada sehingga penduduk perlu menyeberang ke waisai untuk sekedar membeli bahan-bahan makanan yang kemudian di simpan di Freezer untuk persediaan beberapa hari. Dalam fasilitas tak kalah turun, listrik hanya menyala pukul 18.00-24.00 (6 jam) karena sempat ada permasalahan antara penduduk setempat dengan petugas PLTD disana. Perekonomian penduduk pun tidak banyak berkembang, walaupun produknya sudah banyak dikenal dan dicari karena lemahnya suplai ikan yang menjadi bahan dasar pembuatannya.

Semua itu tentu bisa diatasi bila seluruh warga bekerja sama dan sama-sama bekerja membangun kampung. Tentu bukan suatu kata klise yang saya lontarkan. Kebersamaan itu selalu hadir bila ada acara-acara bersama. Hasil hearing saya dengan sebagian besar orang disana, saya dapat menarik kesimpulan bahwa banyak dari mereka yang menghendaki masa depan yang lebih baik dengan ide masing-masing dari mereka. Eratnya kebersamaan penduduk bisa tercermin pada pagelaran lomba dan pertunujukan dalam peringatan HUT RI yang dilakukan nonstop selama tujuh hari nonstop, di darat maupun di laut. Nah justru disinilah titik peran mahasiswa KKN disana, sebagian besar kami curahkan untuk mengkataliskan perubahan ke arah yang lebih baik. Memberikan semangat, pengalaman kami, ilmu kami dan lain sebagainya. Saya tidak bisa memprediksi mendahului takdir, akan jadi apa kampung ini ke depan. Semoga setelah ada KKN UGM ada perubahan yang terjadi walau sedikit. Itulah harapan kami. Pun juga bagi kami banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran yang di dapat Mahasiswa KKN yang tentu tak bisa di dapat di meja kuliah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s