Saonek: Dulu, Kini dan Nanti?

Sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan mengenai kehadiran saya yang kurang lebih dua bulan dalam melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Saonek. Satu pulau sekaligus di didalamnya ada satu kampung. Namun, biarlah kawan-kawan yang lain yang cerita bagiannya, saya disini akan cerita saja gambaran umum yang disertai pengalaman saya di lokasi KKN kepada kawan-kawan yang lain yang belum sempat datang atau orang yang berencana datang kesana.

Pulau ini letaknya yang tak jauh dari Pulau Waigeo dimana ibu kota Raja Ampat yakni Kota Waisai berada. Pulau Saonek, yang merupakan salah satu keindahan yang di miliki Kabupaten Raja Ampat ini, tidak begitu sulit untuk di capai. Tinggal naik perahu jonson (ya begitulah namanya, seperti merk sabun bayi). Dulunya, Pulau Saonek merupakan pusat pemerintahan atau ibu kota dari Raja Ampat sebelum di pindahkan ke Kota Waisai. Tidak heran jika kita bisa melihat fasilitas yang di miliki pulau ini sudah cukup baik. Diantaranya bisa kita lihat beberapa pembangkit listrik baik tenaga diesel ataupun tenaga surya. Menurut warga, listrik dulu bisa menyala bahkan sampai 24 Jam. Wow. Daerah lain saja belum tentu begini.

Menara BTS pun sudah ada di pulau ini sehingga tidak perlu takut kesulitan sinyal ponsel khususnya operator Tel*om*el. Walaupun selama beberapa kali sinyal kerap mati. Sedikit cerita, pernah suatu ketika seminggu lamanya tak ada HP yang bisa digunakan untuk fungsi utamanya (nelpon dan sms), dan setiap kali ingin berkomunikasi kami harus pergi ke pantai untuk mencari sinyal dari pulau sebelah yang mempunyai pemancar BTS.

Melihat tata ruang kampung sekilas kita dapat menilai bahwa kampung Saonek cukup tertata rapi dan bersih, tak heran orang saonek bilang daerahnya adalah “teras raja ampat”. Walau begitu, kalau kita amati di bagian belakang masih ada sampah menumpuk yang menunggu dibakar. Tentu susah mencari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Pulau sekecil itu. Selain itu, beberapa institusi pendidikan dan fasilitas penunjang lainnya seperti kantor-kantor listrik dan air juga sudah di miliki oleh Pulau Saonek.

Masyarakat kampung ini rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan dengan cara yang baik dan tidak merusak ekosistem laut. Perlu diketahui bahwa disini berlaku hukum adat yang di dalamnya juga terdapat hak ulayat pada masing-masing sukunya. Memancing dengan jaring sangatlah dilarang disini, kabarnya pernah ada orang yang mencari ikan dulu di sekitar perairan raja ampat ini dengan menggunakan pukat harimau yang akhirnya berakibat dihukumnya orang-orang ini.

Hukum adat yang masih berlaku di Raja Ampat sangat berperan dalam melindungi ekosistem perairan kabupaten yang berjuluk kabupaten bahari itu dan karenanya sampai disana kita bisa melihat keindan laut di Raja Ampat termasuk di sekitar Pulau Saonek tempat dimana kami tinggal. Ada banyak ikan warna warni yang bisa anda lihat langsung dari permukaan airnya tanpa harus menyelam. Mahasiswa KKN (termasuk penulis) biasa melakukan aktivitas snorkeling ataupun memancing bersama anak-anak setempat dengan perahu kecil disekitar pulau. Kegiatan selingan sore bersama anak-anak sekaligus menikmati keindahan langit dan pemandangan bawah air yang bisa dilihat tanpa harus menyelam. Spesies lautnya pun cukup beragam mulai dari ikan-ikan kecil yang berwarna warni hingga kelompok ikan sebesar cakalang. Keindahan pulau ini pun dulu pernah menarik hati seorang produser terkenal untuk membuat film di pulau ini. Dedi Mizwar melakukan syuting mutiara hitam dengan mengambil setting tempatnya di Pulau Saonek. Merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga kampung ini bahwa pulaunya pernah dijadikan tempat pembuatan film. Kebanggaan itu bisa kita lihat di beberapa rumah warga ada yang masih menyimpan foto-foto mereka bersama Dedi Mizwar.

Keindahan yang paling di cari dan paling menarik dari Pulau Saonek adalah saat matahari terbit dan tenggelam. Ketika langit berubah warna menjadi keemasan, air laut pun tampak memiliki warna yang selaras serta menimbulkan efek warna yang berkilau. Benar-benar suasana indah dan sangat sayang untuk di lewatkan. Katika itu saya sering pergi ke samping posko kkn.

Bersambung….part 2.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s