Menjadi Guru itu Mengajar, Bukan Menghajar.

DSCF1671 - Copy

Menjadi guru itu bekerja untuk peradaban, karena ia ikut mencetak batu-batanya sebagai bagian daripada bahan bangunan peradaban (Taufiq, 2013)

Kata-kata itu rasanya patut disematkan pada guru-guru di SD N 1 Saonek, Kabupaten Raja Ampat. Tak berlebihan memang karena merekalah yang mendidik anak-anak papua yang darinya tidak tahu menjadi tahu, darinya pemalu menjadi selalu ingin tahu, dan darinya “liar” menjadi mudah ditatar.

Pengalaman KKN tahun 2013 yang baru berlangsung kemarin membuktikan akan hal itu. Pemandangan kontras akan kita dapati tatkala membandingkan tingkah polah anak-anak kelas 1-2 dan kelas 5-6. Mereka seakan bermetamorfosa perilakunya. Di kelas 1-2 yang baru saja masuk dari TK bukannya menjadi penurut malah keliatan susah dikendalikan, diperlukan kesabaran ekstra kalau ingin mengajar di kelas-kelas tersebut. Saya saksikan sendiri ketika salah seorang kawan KKN yang mengajar di kelas tersebut, saya dapati anak-anaknya ada yang naik-naik jendela, meja, kursi bahkan ada yang naik lemari. Ada yang sangat usil hingga menyebabkan temannya terus menangis dan ada yang banyak tertawa hingga membuat gaduh suasana. Luar biasa kacau. Namun ketika dikelas 5-6 kita akan mendapati anak-anak yang sudah bisa diajak belajar diajak untuk berekspresi walaupun masih sedikit ramai, saya rasa itu wajar-wajar saja karena tak sampai se-ekstrim di kelas-kelas bawah.

Lewat tangan-tangan dingin dari guru-guru disitulah anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Baik itu dari budi pekertinya maupun dari penguasaan keilmuannya. Pendidikan moral disana memang diajarkan secara langsung oleh guru-guru disana. Misalnya setiap selesai kelas (pulang) mereka melakukan salam-salam ke semua guru baik yang ada di dalam yang ada di luar. Melakukan teguran langsung jika ada yang nakal bahkan ada saja ketika ditegur sampai menangis saking takutnya. Itu mungkin sekelumit nilai-nilai yang ditanamkan kepada murid-murid disana.

Semenjak kami sampai disana, memang tak langsung bisa serta merta melaksanakan program mengajar (guru bantu) di SD. Kami baru mulai melakukan program pengajaran di SD pada tanggal 15 juli. Karena sebelum itu sekolah masuk libur panjang, hingga tanggal tersebut. Barulah setelah itu kami bisa bertemu dengan guru-gurunya dan kepala sekolah untuk meminta ijin melaksanakan program. Singkat cerita, setelah ijin didapat kami langsung saja disuruh untuk mencoba menyambangi kelas-kelas yang sedang kosong. Awalnya memang agak gugup berhadapan di depan anak-anak Papua yang –menurut bayangan kami- akan sulit untuk menjalin komunikasi dengan mereka yang jauh berbeda dengan anak-anak Jawa, dari segi pakaiannya, peralatannya, perilakunya, dan lain sebagainya juga jelas berbeda. Tapi, ternyata kenyataan berkata lain, mereka jauh bisa menerima kami dalam setiap pengajaran di kelas-kelas dan penampilannya pun tidak seperti yang kami bayangkan.

Bersama kawan-kawan KKN yang lain kami bagi-bagi tugas mengajar secara bergantian di kelas-kelas. Pada saat yang sama pengajaran yang kami lakukan sekaligus membantu mengisi kekosongan guru SD. Sudah menjadi kebiasaan memang, ketika awal-awal masuk pengajaran baru setelah libur panjang banyak guru yang belum masuk karena umumnya mereka, guru-guru SD, mempunyai tempat tinggal asli yang jauh dari pulau tersebut.

Semua guru-guru disana memang bagus tapi ada satu guru yang saya rasa punya nilai lebih dari yang lain selain karena cara-caranya mengajar dan memberikan pelajaran mempunyai pendekatan yang berbeda ia juga turut mengembangkan potensi dari anak didiknya. Guru yang mengajar sekaligus menjadi wali kelas VI. Rupanya rumus bahwa tugas guru yang hanya memberikan mata pelajaran saja tak berlaku bagi beliau. Tak sekedar memberikan pelajaran namun, beliau juga mampu menggali potensi  dari masing-masing muridnya dan menyalurkannya hingga ada yang diantarkannya sampai pada perlombaan mewakili Provinsi Papua Barat di level nasional, saat itu tentunya sudah juara di provinsi. Bahkan tahun-tahun sebelumnya pun banyak siswa-siswinya yang ia dampingi memenangkan berbagai perlombaan di tingkat kabupaten.

Memang dalam setiap kegiatan guru ini selalu mendampingi murid-muridnya. Berupaya memberdayakan mereka semaksimal mungkin dalam bersih-bersih sekolah, halaman, hias-menghias. Bahkan saya dapati setiap sore guru yang satu ini selalu ikut ketika ada pertandingan sepakbola yang diadakan murid-muridnya campur dengan anak SMP. Makanya tak heran jika kedekatan terjalin diantaranya. Dalam keseharian mengajar pun, beliau memang tegas, tapi tak beringas dan terpenting beliau selalu mengajar dengan cerdas. Di sela-sela mengajar Tak lupa nilai-nilai optimisme dan motivasi juga beliau sampaikan kepada murid-muridnya. Pernah saya tanya ke salah satu murid disana bagaimana rasanya ketika diajar oleh guru yang satu itu dibanding dengan guru lain, ia bilang “berbeda kaka rasanya diajar dengan guru yang lain.heheh”.

Selain mata pelajaran yang diajar ia juga mengajar kesenian kepada murid-muridnya. Guru yang satu ini memang tak hanya bisa mengajar, ia bahkan bisa melatih kesenian baik itu tarian, bermain alat musik, menyanyi maupun bercerita. Murid-murid kelas VI kadang setelah selesai pelajaran mereka tak langsung pulang, biasanya guru ini memberikan pelatihan tari-tarian, gerak dan lagu, menyanyi. Hasil dari pelatihan itu yang rupanya sangat membantu saya saat perpisahan, saat tanpa persiapan sama sekali murid-murid SD bersedia untuk tampil di acara perpisahan yang digelar malam harinya.

Sewaktu pelaksanaan KKN memang beliaulah orang di sekolah yang paling sering penulis ajak ngobrol baik dari topik pendidikan, pariwisata hingga sepakbola. Yang terakhir ini karena saya sering datang ke rumahnya hanya untuk menonton Pertandingan sepak bola lewat TV parabola yang ada di rumahnya. Bahkan siang-siang pun beliau tak segan menghidupkan genset untuk menonton bola bersama. Walaupun bukan dari satu agama yang sama namun beliau sangat toleran dengan muslim. Bahkan beliau bercerita dulu pernah membantu pengerjaan pembangunan masjid saonek yang kini berdiri megah di tengah pulau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s