Terbawa pengalaman orang lain…

Belajar dari pengalaman orang lain itu penting, karena tak cukup waktu hidup kita untuk menelusuri seluruh lorong kehidupan ini, menelikung pada kelokan kelokannya, menanjak pada bukit nya atau pun menjelajahi lembahnya. Masih perlu ribuan tahun bahkan lebih untuk bisa melewati semua celah kehidupan yang disediakan Alloh.

Belajar ya belajar, kita ambil pelajaran terbaik yang bisa kita ambil padanya. Baik lewat tulisan maupun tulisan bisa jadi media kita untuk bertukar informasi (baca:pengalaman). Akan tetapi pernahkah kawan merasa tersetir atau terbawa pendapat orang lain yang telah dilewatinya, tentu ada yang bicara sering, kadang kadang saja atau bahkan tidak pernah. Itu semua jelas tergantung pada bagaimana keras kepalanya kita dalam menerima informasi dari hasil pengalaman orang lain.

Saya kemarin tersadar bahwa dalam kehidupan ini kita yang punya otoritas penuh dalam setiap keputusan yang kita ambil. Seharusnya pengalaman-pengalaman orang lain yang masuk ke kepala kita hanya sebagai bahan pertimbangan sebagai penguat keputusan yang kita ambil, tetapi disini seringkali kita atau saya (waktu itu) mengambil pengalaman itu sebagai sebuah justifikasi terhadap suatu peristiwa. Saya menjadi berpikiran ‘seperti itu seharusnya terjadi, seperti yang dibilang mas A’ menjadi self border terhadap proses berpikir untuk mencari jawaban yang lebih solutif.Makanya, tak sekalipun para tokoh tokoh secara keseluruhan harus kita terima pendapatnya. Setiap waktu ada tantangannya dan setiap waktu pula ada “pahlawan” yang sanggup menyelesaikannya. Apa yang ada dihadapan sekarang tentu berbeda hal dan penyikapan dengan yang dulu. Satu hal dengan cara yang sama dengan dulu bisa jadi berdampak pada hasil yang berbeda walau ekspektasi ingin seperti hasil yang dilaksanakan oleh pendahulu.

Jadi boleh saja kita menerima pengalama orang lain akan tetapi haruslah ada mekanisme internal filter yang membatasi bahwa tak semua informasi harus kita ambil karena boleh jadi karena kebutaan kita terhadap suatu masalah kita jadi menjadi semakin kreatif dengan mencoba menyelesaikannya dengan “cara” kita sendiri. Karena jelas ada proses berpikir dan bertindak secara mandiri disitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s