Jakarta oh jakarta

Rangkaian sepeda motor bagai tak putus, mempersulit mobil yang akan membelok – bahkan ketika lampu sein telah lama berkedip memberi isyarat. Motor pun Juga Seperti itu kelihatannya. Para pengendara yang lain seolah bilang, “Beloknya nanti saja, setelah saya lewat.” “Biar orang lain yang memberi jalan, bukan saya.”

Kita tak mau mengalah. Itu bagus kalau konteksnya tepat. Tapi saat harus memberi kesempatan bagi orang yang (mungkin lebih) membutuhkan, semangat ogah mengalah itu jelas salah.
Kalau konteksnya adalah pemenuhan naluri egosentris, lagi-lagi jalan raya juga tak kurang menyajikan bukti. Misalnya kecelakaan karena pelanggaran rambu, atau bus penuh penumpang yang dihajar kereta api setelah menerobos palang pembatas.

Anekdot ini kerap tercetus –> Ketika bau kentut merebak, orang Inggris yang kebetulan “membuang”-nya mengaku dengan bilang, “Pardon me.” Tapi, kalau kebetulan orang Australia yang melakukannya, ia akan berkata, “Forgive me.” Sedangkan orang Amerika, “Excuse me.” Tapi, apa kata orang Indonesia? “Not me.”

kalo mau sampe ke tujuan lebih cepat harus gila…
Katanya, kalo di jakarta satu satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri…wakakakak, ga heran di jakarta banyak orang stress.

Sedikit cerita dari jakarta.

Kelapa Gading, 25 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s