Antara IQ, EQ dan SQ

Semakin luar biasa permasalahan suatu bangsa, dibutuhkan pula pemimpin yang luar biasa. Orang yang akan menjadi pemimpin saat ini haruslah orang yang memiliki kecerdasan yang holistik (menyeluruh), yang dalam klasifikasi umum dikenal tiga kecerdasan yakni IQ (Intelligence Quotient),EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritually Quotient). IQ berkaitan dengan kemampuan intelegensi seseorang ketika memimpin, IQ berperan dalam kelancaran pekerjaan secara teknis dan strategis. Sedangkan EQ menurut Daniel Goleman, meliputi kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan tersebut mencakup lima komponen yaitu pengenalan diri, pengendalian emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berempati dan kemampuan mengendalikan hubungan antar sesama manusia. IQ menentukan sukses seseorang sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosi (EQ) memberi kontribusi 80%.1

Dari kedua kecerdasan tersebut kita mengetahui bahwa pentingnya EQ yang menyumbang ¾ dari kesuksesan seseorang, tetapi dari penelitian sepuluh tahun terakhir ternyata adanya EQ dan IQ pun belum cukup untuk mengatasi keadaan saat ini. Pernyataan yang seringkali muncul adalah bagaimana jadinya kalau EQ dan IQ tersebut malah digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Hitler atau Stallin. Bisa saja didepan seluruh rakyat yang dipimpinannya mereka dapat tercitrakan baik secara intrapersonal dan interpersonal serta mempunyai intelegensi tinggi, namun dibalik itu semua mereka menyimpan niat keji terhadap rakyatnya yang hingga kini kita dapat membaca di buku sejarah tentang pembantaian ribuan manusia tak berdosa.2 Tentu tidak cukup hanya dengan dua kecerdasan itu.

Selain dua kecerdasan itu, dibutuhkan pula Kecerdasan Spiritual. SQ memang penting tak hanya untuk hidup sehari-hari tetapi juga dalam kaitannya dengan kepemimpinan. Inilah yang selama ini telah banyak dilupakan oleh para pemimpin negeri ini. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula. Dengan adanya kesadaran beragama bahwa setiap yang kita lakukan selalu dalam pengawasan Alloh SWT, menimbulkan sikap muraqabah. Sebesar apapun iming-iming dalam berbuat jahat yang ada dalam suatu wewenang, pemimpin akan tetap menjadi amanah. Disamping itu, SQ ini jugalah yang menjadi krisis akut dalam pribadi mahasiswa-mahasiswa muslim di Indonesia saat ini.

1 http://www.alifbraja.wordpress.com/2012/07/06/kecerdasan-spiritual/, diakses tanggal 4 agustus 2012 pukul 14.00 WIB.

2 Ary Ginanjar Agustian, 2001, Rahasia Sukses Membangun kecerdasan emosi dan spiritual ESQ berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 rukun islam, Jakarta, Arga Wijaya Persada, hal.56.

One thought on “Antara IQ, EQ dan SQ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s