Membongkar TIPIKOR dengan “Orang dalam”

Tak hentinya pemberitaan terkait Tindak Pidana Korupsi di berbagai media dapat ditarik kesimpulan bahwa korupsi memang belum akan mengalami kemunduran dalam waktu dekat di negara ini. Semakin hari pemberitaan yang terjadi membelalakan mata kita dengan nilai uang yang dikorupsi semakin hari semakin besar saja, hingga rakyat pun merasa sudah terbiasa terhadap kurupsi yang bernilai “kecil”. Korupsi merupakan extraordinary crime (kejahatan yang luar biasa) dan masih menjadi isu utama perusak pembangunan negara. Kejahatan yang luar biasa tentunya harus diperlakukan secara luar biasa pula baik dari segi penyelidikan sampai pemeriksaannya di pengadilan. Metode-metode yang selama ini dipakai para penegak hukum terbukti tidak efektif dalam menjerat pelaku-pelaku Tindak Pidana Korupsi, tantangan yang dihadapi aparat penegak hukum kian berkembang maka dari itu diperlukan terobosan dalam mengungkapnya sekalipun itu menggunakan pelaku “orang dalam”.

Metode membujuk pelaku orang dalam untuk “menyanyi” diyakini cukup efektif dalam mengurai kejahatan yang terorganisasi dan tersembunyi dari mata aparat.  Kasus kejahatan yang selama ini diperiksa selalu menemui batu sandungan karena melibatkan berbagai pihak yang punya kuasa. Tidak mengherankan memang karena realitasnya disini yang diburu aparat penegak hukum adalah penjahat kelas teri, bukan kakap. Ada keyakinan umum yang berkembang bahwa semakin besar nilai keuntungan yang dikorupsi, semakin sulit diseret ke pengadilan. Uang yang dikorupsi cukup berlebih untuk membeli harga diri polisi, jaksa dan hakim; menyewa pengacara tenar; mencukongi demonstran pendukung; serta membungkam sorotan kritis media.[1]

Perkembangan kasus-kasus pidana khusus yang cukup signifikan memberikan tantangan bagi para penegak hukum. Kebanyakan dari kasus-kasus ini melibatkan tindak kriminal yang dilakukan oleh beberapa pelaku yang telah mengembangkan ikatan yang kuat satu sama lain. Ikatan itu menjadikan pelaku bersatu dalam menjalani proses hukum. Kenyataan tersebut, berbanding lurus dengan hakikat sifat daripada kasus-kasus kejahatan terorganisir, dimana kasus-kasusnya sulit untuk dibuktikan jika dibanding dengan tindak pidana biasa/umum. Untuk membongkar kejahatan tersebut membutuhkan “orang dalam” yang mampu dan mau manyediakan bukti penting mengenai siapa yang terlibat, apa peran masing-masing pelaku, bagaimana kejahatan itu dilakukan dan dimana bukti lainnya bisa ditemukan. Orang tersebut dalam proses persidangan dapat menjadi saksi yang sangat penting, memberi bukti sebagai orang pertama, saksi mata dari kejahatan dan atas kegiatan para terdakwa.[2]


[1] Makalah Teten Masduki, Membongkar Pengungkap Aib, 2011

[2] Supriyadi WE, Tindak pidana Korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s