Apapun dalam pengetahuan-Nya…

Suatu sore, di kos-kosan kawan ku duduk santai di teras lantai dua. Menikmati semilir angin dingin yang berhembus sejuk melewati kepalaku. Ah. Santai, tenang, dan nyaman rasanya ketika angin itu datang menyapa diri ini yang sudah penat akan semua persoalan duniawi, di sore hari yang berselimut awan merah berpendar indah nian di ufuk barat yang disambut suara burung yang baru saja pulang dalam petualangannya mengais rejeki Alloh. Sore ini rasanya berbeda, sore ini seperti mengajak merenung akan setiap peristiwa yang pernah terlewati susah senang tawa canda semua terangkai menjadi kenangan apik yang berjasa membentuk pribadi ini menjadi aku yang sekarang.

Dibawah kulihat orang sedang berlalu-lalang dengan segala urusannya.

Tak selang berapa lama datang angin kedua, lebih cepat. Kali ini ia menyambar sebuah pohon di depan rumah. Hasilnya disela pepohonan satu persatu daun berguguran, rontok meninggalkan dahan yang ditempelinya semenjak keluar dari batang. Inilah yang kemudian sedari tadi menarik pikiranku untuk berpikir ada sesuatu yang bisa kita ambil. Lihatlah berapa jumlah daun yang rontok. Tentu banyak. Apa yang gugur adalah yang hijau, bukan kebanyakan adalah yang sudah menguning sampai kering. Berpikir dan merenung lebih dalam untuk mengartikan semua ini. Ingatlah dalam penciptaan dan penghancuran apa yang ada di langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berilmu. Dan tidak ada kesia-siaan dalam setiap penciptaan.

Semua terencana

Nyanyian alam yang belum terurai arti ini, tiba-tiba disusul dengan nyanyian bacaan Al Quran dari salah satu kamar disamping. Tak sengaja sampailah bacaannya pada Surah Al An’am. Ternyata salah satu ayat disana ada potongan ayat yang menggambarkan tentang daun yang tadi kulihat. …dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya… (Al An’am: 59). Hati ini berdesir, ah sejak kapan aku lupa ayat ini. Nampaknya inilah jawaban yang mungkin bisa mengertikan peristiwa tadi. Sampailah kepada ayat ini tentang pengetahuan Alloh tentang semua gerak kehidupan seluruh benda dan terlebih lagi makhluk yang terkena taklif, baik dari kalangan jenis jin maupun manusia. Sehubungan dengan kisah pohon ini, Ibnu Abu Hatim berkata bahwa tak ada sebuah pohon pun melainkan ada malaikat yang diperintahkan untuk menjaganya. Malaikat itu mencatat daun-daun yang gugur dari pohon itu.[1]

Dunia seluas ini, pada setiap harinya bisa terjadi banyak sekali daun gugur bahkan dalam satu waktu yang sama pun terdapat banyak sekali daun gugur bersamaan dan semua itu ada dalam sepengetahuan Alloh SWT. (Subhanalloh, bisikku dalam hati). Baik dari hal kecil dan sepele ini pun Ada dalam rencana Alloh. Dan memang kalau kita telusuri lebih lanjut dengan dasar keimanan akan ada keyakinan intervensi Alloh dalam setiap langkah kita. Maka buat apa takut berbuat yang benar. Inilah salah satu akar dari pemahaman tentang Syajaah, berani. Berani hidup, berani berbuat benar walau pahit, berani malawan hawa nafsu. Karena dalam keyakinan Alloh selalu bersama kita.

Semua sudah dikehendaki

Kesadaran seperti inilah yang harus selalu kita camkan dan hayati dengan baik di setiap episode drama hidup ini. Karena tujuan kita bukanlah semata-mata dunia ini, ada yang lebih indah, lebih abadi dan lebih kita sukai tentunya yakni di akherat kelak dengan hadiah surga, yang sering dalam bahasa Al Quran menggambarkan mengalir dibawahnya sungai sungai dan kita akan kekal didalamnya. Berada di masa perkuliahan semester ini banyak yang ingin dicapai, banyak pengembangan diri yang ingin dijalani, namun kadang sadar bahwa diri ini bukan hanya milik diri, tapi juga milik ummat. Masih banyak hal yang perlu dikerjakan, yang sering tertutup oleh ego pribadi, untuk kebaikan ummat. Sudah beberapa tahun ini terlibat dalam berbagai kegiatan, bakti sosial, syuro, dan kerja-kerja jamaah lainnya. Semakin lama keterlibatan yang semakin dalam menghendaki kita, bahwa semua yang dikerjakan semakin mendekati kesempurnaan dari banyak segi.

Dan rasanya diri ini memang tak akan bisa sempurna melakukan semuanya dengan baik, banyak keterbatasan yang menghendaki berbeda dari ekspektasi awal yang direncanakan. Ada satu keyakinan bahwa sesuatu yang ‘sempurna’ terkadang mengundang bahaya. Justru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya.” Ingatlah kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidzir tatkala melubangi kapal yang sempurna untuk melayar menghantarkan angkutannya yang sudah siap dikemasi. Hingga berlubangnya kapal malah membawa manfaat dengan dijauhkan dari mara bahaya. Semua Sudah Dikehendaki.

Kerja-kerja kebaikan yang kita tanam selagi muda tak akan pernah ada kesiaan didalamnya, karena pada akhirnya apa yang kita tuai adalah apa yang kita tanam entah dengan berbagai bentuknya kebaikan itu akan kembali kepada kita. Bersabar dan ikhlas menjalani setiap takdir malah akan membuat kita lebih tenang walau dalam setiap perjuangan banyak onak duri yang senantiasa mengintai Abu daud Beureuh, Imam NII kedua pernah berkata: “Hendaknya kamu ikhlas dalam berjuang. bila kesuksesan manyertaimu, maka ummat akan ikut menikmati hasil perjuanganmu. Tapi bila gagal dan musibah menimpamu, janganlah manyusahkan ummat dengan keluhan-keluhanmu. Sabar dan tabahlah menghadapinya sendirian. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar”[2]

Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, “Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehormatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezhaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah.”[3]

 

Rasulullah bersabda: “Para Nabi, kemudian orang-orang seperti mereka. Seseorang diuji dengan tingkat keagamaannya, jika agamanya kuat maka ujiannya pun berat dan jika agamnya tidak kuat maka ia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian tidak meninggalkan seorang hamba, hingga ujian membiarkannya berjalan diatas bumi tanpa dosa”

 

 


[1] Tafsir Ibnu Katsir jilid 7, Surah Al An’am

[2] Irfan S Awwas, Jejak Jihad S.M Kartosuwiryo.

[3] Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s