Pikir dan Rasa…

Rasanya bila ada perbuatan bodohmu keluar, ingin sekali rasanya hape ini dimatikan, kamar dikunci dan kau menggoreskan sebilah kaca ke nadi pergelanganmu lalu menulis surat dengan tinta “merah”. Rasa tusukan sembilu itu memang rasanya terlalu sayang jika diakhiri dengan hal tersebut. Manusiawi memang bila melakukan sesuatu yang dirasa amat salah langsung saja kita ingin mengakhirinya dengan yang kilat, tapi apakah dengan cara seperti itu tuntas? berapa banyak pihak yang malah lebih terkecewakan dengan perbuatan itu. Sayang sekali jika kau bertanya dan menasehati seperti itu pada orang yang mengalaminya, itu tak ubahnya bagai angin yang melewati lubang telinga lalu terus saja hingga keluar disebaliknya.

Keluar salah satu kata mutiara yang pernah ku kutip, “orang yang hebat bukan hanya orang yang bisa mencegah keluarnya masalah, lebih dari itu ialah orang yang mampu menyelesaikannya dengan baik tatkala masalah itu datang”. Rasanya menohok benar untaian kata ini. Memang selama ini hati selalu menjawabnya dengan tanpa keraguan walau sering berperang dengan batas rasionalitas otak. Tapi itulah yang selama ini menguatkan mentalmu, sadarilah jika itu memang bagianmu tak akan tercecer tak akan tertukar tapi ambilah pelajarannya jika memang luput. Jangan mengulang lagi jika kau tidak ingin dirundung rasa bersalah.

Berani hidup adalah berani mengambil resiko, mengambil keputusan yang tepat akan melewati arah mana saat dihadapkan pada semua persimpangan hidup. Aku sebagaimana normalnya yang lain memang selalu ingin hadirnya kebaikan dihadapan, entah secara nyata terlihat atau yang terbungkus jubah keburukan, tetapi tetap saja diri ini terlalu naif untuk mencoba berpikir terbaik. Hati memang tak sekuat otak dalam merespon segala masalah, ia selalu saja ingin dimanjakan. Realistislah kita hidup di dunia!! Kelak bila sudah diakherat tanyakanlah pada-Nya, “Ya Tuhan apa dan sebenarnya apa dibalik engkau hadirkan hati dan otak ini?” yang mana yang bisa dijadikan kawan dipihakku saat mereka berperang.

Tak mungkinlah sebagai manusia biasa, kita bisa mengatur keduanya akur saja. Rona kebaikan yang terpancar dari hati kadang tak sampai pula ke bahasa otak yang menginginkan segalanya rasional, dan tak pelak hati pun kadang tak mampu menerjemahkan sinyal yang dikirim simultan dari otak. Hingga ending-nya masih menggantung seperti ini, “Ya Tuhan, berilah hamba jawaban akan semua kegundahan ini?, hamba mohon”, sambil ku letakan tangan didada lalu ku saputkan ke wajah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s