Dengan cara seperti apa kelak?

Mengawali perjumpaan kali ini saya kutipkan salah satu ayat Al Qur’an yang mengingatkankan kita sebagai seorang makhluk wajib hukumnya untuk menyiapkan diri untuk hari akherat.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ( Q.S Al Hasyr: 18)

Sudah seharusnya apa saja yang kita perbuat harus diorientasikan kepada akherat karena itulah salah satu dari ciri ketakwaan yang disebutkan dalam ayat tersebut. Hari akherat pasti akan datang bagi semua makhluk, itu adalah sebuah kenisacayaan dan setiap makhluk harus membekali dirinya.

Setiap ada awal tentunya akan ada akhir, begitupula dengan kehidupan kita ini akan ada akhirnya baik dengan kematian, hancurnya suatu kaum atau dengan kejadian kiamat. Dalam hidup ini waktu selalu berjalan ke depan, dan tak pernah sekali-kali ia akan kembali ke belakang. Setiap detik yang kita habiskan, setiap jam yang kita gunakan pada dasarnya hanya mengurangi usia kita dan semakin mendekatkan kita pada ling lahat. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah bahwa gambaran waktu hidup kita seperti pohon yang tumbuh kemudian daunnya berguguran satu persatu. Sesungguhnya kesadaran tentang waktu ini mempunyai posisi yang sangat urgen, karena kesadaran akan hal yang satu ini akan menentukan pola hidup dari seorang individu apakah ia berlaku baik atau buruk. Dengan kata lain bahwa kesadaran akan waktu ini merupakan kesadaran akan kehidupan. Ibnul qayyim ala jauziah berpendapat bahwa sesungguhnya iman itu dumulai dari titik ini.

Tak ada satu orang manusiapun yang mengetahui kapan ajalnya akan datang. Dengan dirahasiakannya kematian dapat kita ambil sebagai hikmah yang besar bahwa Alloh membatasi umur kita bahwa dengan ketidakpastian seperti ini agar manusia menjadi terdorong untuk berlaku terbaik dimanapun dan kapanpun. Karena tidak mustahil bahwa kematian akan datang sewaktu-waktu tanpa perlu kita jemput. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa setiap yang hidup akan mengalami kematian, seharusnya hal ini menjadi cukup bagi kita untuk setiap saat memperhatikan apa yang kita perbuat yang akan mempengaruhi berat timbangan kita di Yaumul Mizan.

Sayangnya, di sisi lain dengan dirahasiakannya kematian ini manusia ada juga yang malah terlena, karena sering sekali berpikir bahwa ajal masih jauh karena ia masih muda atau masih segar bugar lalu dengan alasan ini ia berpikir akan memperbanyak bermaksiat dahulu hingga pada akhirnya akan bertaubat sebelum diri merasa akan mati. Na’udzubillah.

Kalau kita amati lebih dalam lagi, orang-orang barat yang materialis mempunyai cara berpikir yang bersebda terkait waktu, menurut mereka waktu dalam hidupnya hanya ada dua yakni, waktu berproduksi dan waktu mengkonsumsi. Saya mencontohkan bagi mereka yang bekerja waktunya dari senin sampai jum’at lalu sabtu minggunya dihabiskan untuk menikmati hasil bekerjanya, begitu terus seperti siklus yang berulang-ulang. Maka dari itu tak heran ada istilah thanks god its friday dan wajar dalam dunia mereka istilah the second life (alam akherat) memang tidak ada. Berbeda lagi dengan orang yahudi yang sudah yakin memang ada alam lain yang akan berganti ketika seorang manusia mengalami kematian, namun tetap saja mereka melakukan banyak kemaksiatan karena berpikir bahwa tak masalah jika disiksa di akherat selama 2-3 hari asalkan setelah itu bisa menikmati surga.

Sudah menjadi pemahaman yang luas dalam islam bahwa dalam peristiwa hari kiamat sesungguhnya yang dihancurkan tidak hanya tata ruangnya (alam dan seisinya), namun juga sistem waktunya. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa 1 hari dalam hitungan waktu manusia di dunia adalah satu milenium (seribu tahun) dalam hitungan waktu akherat. Rasa-rasanya tak ada satu manusiapun yang mau disiksa dalam neraka yang panasnya luar biasa dalam waktu 3 milenium.

Dari penjabaran diatas tentunya dapat kita ambil pelajaran bahwa hidup baik adalah pilihan dan  kematian adalah suatu keniscayaan. Salah satu manfaatnya juga bila memahami kesadaran tentang kematian, bahwa setiapa kali ada dorongan untuk bermaksiat bisa kita ingatkan pada diri “bagaimana jika kita mati pada kejadian seperti ini?”. Hal pertama yang sangat berpengaruh adalah ketenangan hatinya yang terganggu, kalaupun masih diteruskan maksiatnya pun hatinya pasti tak akan tenang.

Ada satu penelitian menarik di Jerman yang dijadikan Desertasi Doktor disana. Bahwa peneliti tersebut mengumpulkan cara-cara bagaimana seseorang mati yang dikemas dalam sebuah video, tak kurang dari puluhan cara mati yang didokumentasikan dengan momentum yang tepat hingga semua orang yang melihatnya menjadi terperanga dan anehnya memang dalam keadaan paling simpel sekalipun kita dapat mengalami kematian. Contohnya karena tersedak.

Lalu saya lontarkan kepada anda sebuah pertanyaan,“Dengan cara apa kelak engkau akan mati?”

 

* Yogyakarta, 16.00 WIB

Kala awan mendung datang menyambut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s