Waspada…

Yogyakarta- Malam senin 18 Desember, motor yang telah diisi ful dari POM bensin siap pulang ke rumahnya setelah sebelumnya menonton acara cak nun di UC UGM. Baru keluar beberapa meter dari pom, terdengar teriakan sayup-sayup yang semakin lama smakin jelas “maliiiiing-maliiiing” hingga berkali-kali. Ku tengok ke belakang kulihat ada sekawanan orang yang keluar ke jalan dari sebuah tempat dipinggir jakal (jalan kaliurang) mereka mengejar 2 orang yang berboncengan mengendarai motor dengan ngebut. Baru terhenyak sadar bahwa mereka adalah maling motornya, dan aku terpaku tak melakukan apa-apa walau motor itu searah menuju kearah jakal utara, jalan yang juga kulewati. Saya sendiri sempat berpapasan dengan jarak 7 meter dari maling tersebut.

Kali itu terasa betul mental yang selama ini kulatih ikut beladiri ternyata masih kurang besar ketika melihat adanya pencurian. Sampai sekarang pun saya masih berpikir bila aku sempat turun dari motor dan melemparkan helmku ke pengendaranya hingga ia terjatuh mungkin akan lebih mudah bagi warga yang akan menangkapnya dan menggebukinya rame-rame. Memang kusadari terlintas berbagai pikiran tentang malingnya, warga, motornya, pemiliknya. Dan kaburlah maling itu menggondol satu motor yang terlihat masih bagus.

Selesai memarahi diri sendiri, kukendarai motorku dengan pelan2 sambil berpikir kesana kemari, itulah peristiwa kemalingan kedua yang ku lihat dengan mata kepala sendiri, dan aku masih saja hadir sebagai penonton. Dan juga masih penasaran tadi sempat kulihat ada bebrapa orang yang mengejar dengan motor maling tersebut dan kudoakan semoga maling itu tertangkap.

Yah itulah peristiwa paling berkesana pada hari ini melebihi acara sarasahan nasional KMFH. Selama ini apa yang aku lakukan mungkin banyak kesalahan, dan Alloh masih menyayangi kita dengan mengingatkan pentingnya kewaspadaan lewat motor orang lain. Memang saya akui akhir2 ini saya mungkin memang menggampangkan, naruh motor tanpa mempeduliakan hal buruk yang bisa saja terjadi. Yah, setiap apa yang menimpa kita adalah takdir alloh tetapi bila kita belum mengeluarkan ikhtiar terbaik kita, maka saya anggap itu murni kesalahan manusia. disadari atau tidak kejahatan ada disekeliling kita, maka mengutip kata bang Napi “WASPADALAH-WASPADALAH”.

 

Yogyakarta, 19 desember 2011

00.05 WIB diatas meja perenungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s