Futur pasca amanah…

Kuawali tulisan ini dengan rasa “nyesek” dalam hati, entah kenapa banyak orang didekatku bisa berubah sedemikian cepetnya. Yang dahulu begitu kerasnya dalam menerapkan syariat islam terhadap hal keorganisasian bahkan sempat dicap konservatif mulai dari penampilan, hubungan cow-cew, jaga pandangan dan lain-lain, yang dahulu dikenal sebagai aktivis yang kuat dalam prinsip dan penerapan bisa berubah 180 derajat. Yang dahulu memakai jilbab panjang setelah pulang dari luar negeri, jilbabnya diganti menjadi jilbab “bunuh diri” (jilbab yang dililitkan secara ketat pada leher, hingga terkesan adanya upaya bunuh diri), adapula yang berpacaran, copot jilbab dan mulai bergaul dengan pergaulan yang dalam pandangan anak surau hal itu sangat tidak syar’i.

Teringat pesan seorang orang yg sudah saya anggap sebagai kakak, “fik, dunia realita nanti tidak akan sama dengan dunia yang kamu geluti kini, dunia aktivis masih terlalu jauh untukmu menilai masa depan. Mas sendiri ngerasa pergaulan udah mulai cair dalam hubungan dengan perempuan…” katanya. Yah, itu pesennya agar saya selalu jaga diri dan jaga kawan-kawan yang lain agar tetap dalam idealisme yang dipupuk semasa berorganisasi.

Memang bila ditilik lebih jauh lagi pergaulan kini menuntut berlebih kepada setiap insan muslim agar tetap bisa bergaul dengan lingkingan yang heterogen. Paling terasa adalah benturan pemikiran atau clash of civilisation, penerimaan orang awam terhadap sesuatu yang masih dalam koridor syariat namun hal itu berbeda jauh dengan kultur di daerah itu atau komunitas tersebut. Dan mungkin pihak yang paling terasa itu adalah akhwat yang sangat mencolok dengan dandanan jilbab panjang dan lebar, memakai rok dan berkaus kaki. Seperti yang dialami oleh kawan saya yang mingkin karena pemahaman keluarganya yang kurang sehingga pada saat ia pulang kerumah terjadi cek cok dikira mengikuti aliran sesat dan itu tidak terjadi dengan satu akhwat saja melainkan hampir semua akhwat yang dihadapkan pada posisi masyarakat dan keluarga yang belum bisa memahami secara menyeluruh terhadap islam.

Klo kita buka mata lebih jelas lagi fenomena ini sudah sepantasnya mendapat porsi perhatian yang lebih dari kalangan aktivis, karena stok alumni-alumni yang dahulu dikader semasa kuliah harus jatuh sebelum berperang dengan ilmu yang dia dapat semasa kuliah. Dalam Alquran dijelaskan:

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Menjadi futur memang sudah tabiat manusia, adakalanya iman itu naik bahkan tidak jarang iman itu jatuh “nyungsep” hingga susah untuk bangun lagi. Kita bukanlah malaikat yang selalu lurus saja imannya. Seperti kata ustad Rahmat Bahwa manusia akan selalu diuji saat titik terlemahnya, tinggal kita bisa bertahan atau tidak. Ujian bagi setiap makhluk adalah suatu keniscayaan maka dari itu ijian tersebut akan menilai seseorang akan keimanannya. Trus solusinya seperti apa. Berdasarkan sharing dan diskusi dengan beberapa kawan dalam organisasi didapat hasil sebagai berikut:

Pertama, jauhi kemaksiatan

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81). Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur.

Kedua, menjauhi hal-hal yang berlebihan.

Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.

Firman Allah: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun:6) Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143)

Ketiga, melazimi Jamaah.

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.” Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas.

 

*ditulis setelah mendapat kabar yang aneh-aneh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s