Beragama secara “Salaf”

Pernah dan bahkan sering sekali saya mendengar kata salaf maupun salafy dari teman-teman dikampus dan juga kadang terbawa diskusi. Sebenarnya apa sih salaf itu/beragama islam secara salaf itu seperti apa.

Kata temen saya yang bisa bahasa arab, kata  Salaf dari segi bahasa artinya yg lalu/dahulu/kuno. Sama seperti semua bahasa bahwa arti itu sendiri tergantung dengan konteks kalimatnya, namun yang dimaksud dengan salaf disini ialah berpegang teguh pada al quran dan sunnah, maka sederhananya semua orang yg berpegang teguh dengan alquran dan sunnah disebut salaf, entah dia NU, Muhammadiyah, HT, JT, Tarbiyah dll selama masih berpegang pada Al Quran dan Sunnah maka masih bisa disebut salaf. Bila ditinjau secara historis, orang-orang yang menggunakan metode salaf ialah generasi sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’in artinya generasi terdahulu. Biasanya ditambah dengan kata shalih maka kemudian ada istilah umum salafush shalih. Jadi bila digali lebih dalam semangatnya adalah segala hal dan segala perkara harus merujuk/dikembalikan kepada Al Quran dan Sunnah.

Secara umum ada dua model salaf yaitu model Ibnu Taimiyah dengan salaf yg bermadzab dan Mohammad Rasyid Ridho dengan salaf yg tdk bermadzab. Ibnu Taimiyah sendiri bermadzab hambali juga muridnya Ibnul Qayyim al jauziah yang kemudian diteruskan oleh Syech Muhamammad Bin Abdul Wahab, nah sedangkan kalo aqidahnya menyebut diri ahlusunah wal jamaah, tapi sayangnya istilah yang sama ini sering dipahami berbeda-beda, versi NU ‘aswj” beda, dari saudi beda lagi lalu  Ja’far Umar Thalib beda lagi, Muhammadiyah beda lg.

Di Arab Saudi sendiri sampai sekarang madzabnya hambali, yg anti dengan tassawuf apalagi tarekat. Nah kalau ada yang menyebutkan “wahabi”  seperti hendro priyono itu karena dia belum paham. Istilah wahabi menurut Prof Yunaha Ilyas resminya tidak ada, itu dikeluarkan oleh orang-orang orientalis dengan nada negatif. Kalau wahabi berarti kekerasan, kemudian sekarang dipakai densus 88 utk mendeskreditkan islam-islam garis keras sebagai teroris. Orang-orang tersebut selalu menyangkut-nyangkutkan dengan tokoh ulama Muh Bin Abdul Wahab yg dituduh terkait pemikiran-pemikirannyan tapi beliau sendiri tidak pernah melakukannya.

Lanjut, Salaf model ke dua, Moh Rasyid Ridha. Muridnya Syech Muhammad Abduh. Beliau ialah seorang jurnalis yang kemudian beliau bertemu dengan Syech Muhammad Abduh dari Al Azhar, sehingga terbitlah tafsir Al Mannar. Kemudian muncul ide-ide salaf yaitu yang berpegang teguh pada Al Quran dan Assunah tanpa mengikatkan diri pd aliran-aliran teologis madzab, fiqih dan tassawuf manapun. Nah yang mengacu pada hal ini adalah gerakan Muhammadiyah. Maka ketika Muhammadiyah membuat keputusan tidak pernah menyebut dari siapa atau ulama siapa tapi langsung dari Al Quran dan Al Hadits dengan model salaf.

Sekali lagi saya tekankan, mau menganut model manapun itu benar sepanjang masih berpegang teguh pada Al Quran dan Assunah.

Salaf berbeda dengan salafy , salaf itu tdk ada kelompoknya/organisasinya karena merupakan sebuah metodologi beragama /manhaj. Tp kalo salafy sudah menunjuk pada kelompok tertentu dan sering mengklaim sebagai salaf yg paling murni. Tema utamanya adalah ANTI BID’AH.

2 thoughts on “Beragama secara “Salaf”

  1. Bismillahirrahmanirrahim.

    Anda terlihat belum memahami manhaj salaf. Harus banyak belajar, terutama belajar bahasa Arab, Aqidah, dan Manhaj.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s