Nasionalisme Pemuda Dalam Kerangka Keislaman

garuda-pancasila

Nasionalisme Pemuda Dalam Kerangka Keislaman

Hari sabtu, 20 Desember 2008 kemarin. Saya mengikuti Seminar Nasional yang diadakan JMF (Jamaah Muslim Fisipol) di gedung Fisip UGM dengan pembicara Bpk Adabi Darban, Bpk Yunahar Ilyas dan Bpk Tiar yang berlangsung sampai pukul 1 siang.

Saya disini sekedar membagi ilmu kepada teman2 semua, tentang apa yang telah saya dapat pada seminar tersebut.And let we start

Pembicara pertama Bpk Yunahar Ilyas, beliau menyampaikan secara singkat sbb:

Nasionalisme itu secara harfiah yaitu mencintai tanah air melebihi segala-galanya. Tapi pada konteks keislaman nasionalisme tidak boleh diatas agama, kita sebagai umat Islam dilarang mengutamakan nasionalisme dan mengeyampingkan agama, kalo dalam hukum Lex speciale derogat legi generale …apa hubungannya? :b (taufiq). Nasionalisme itu sendiri tidak boleh merusak ukhuwah islamiyah, kita sebagai umat muslim adalah saudara terlepas dari mana kita berasal. Lanjutannya saya lupa….he3. kemudian menyampaikan tentang masyarakat madani beliau menjelaskan ciri2nya yaitu masyarakat yang bertauhid dengan segala konsekuensinya…dll.

Kemudian menyampaikan tentang masyarakat Legaliter dengan ciri-ciri Demokratis, dll. Pada akhir beliau memaparkan tentang pentingnya organisasi bagi seorang pemuda. Organisasi menjadi tempat dimana seorang pemuda dilatih bertanggung jawab, berkomitmen dan berkonsistensi serta yang lebih penting adalah melatih kemampuan Problem Solving. Di dalam organisasi kita dilatih menjadi seorang pejuang, kenapa begitu? Kita di dalamnya berkorban daya, upaya, waktu, pikiran, hati dan perasaan.

Pesan saya: Kemenangan tidak datang dengan sendirinya tapi butuh Pengorbanan harta dan jiwa, keikhlasan dalam berjuang, keteguhan menghadapi tantangan, Keberanian dalam bertindak, kecerdasan dalam bersiasat, kemurnian dalam bertauhid dan Tawakal kepada Alloh SWT.

Pembicara yang kedua, Bapak Adaby Darban beliau menyampaikan tentang Peranan Islam dalam Perjuangan Indonesia: saya disini tidak akan menyampaikan semuanya karena terlalu panjang, makalahnya saja 15 halaman.

Saya dapat menggaris bawahi bahwa 3 kali islam dikorbankan di Indonesia:

  1. Sejak abad 16 Islam tidak dinampakkan, Islam dicoret dari daftar sejarah bangsa indonesia

  2. Korban toleransi yaitu kata-kata syariah pada Piagam Jakarta dihilangkan dalam tenggang waktu 53 hari. Setelah di umumkan Moh. Hatta memohon kepada para ulama agar kata-kata syariah dihilangkan karena Indonesia bagian timur mengancam akan memisahkan diri. Kemudian dengan sangat terpaksa para ulama sepakat menghilangkannya tetapi dengan satu syarat yaitu diganti dengan “Yang Maha Esa” yang hingga saat ini sering kita dengar setiap upacara bendera.

  3. Yang sampai saat ini masih terjadi, yaitu Korban Demokrasi

Tapi, tak ada masalah yang tak ada jalan keluar. Beliau juga menambahkan syarat kemenangan islam:

  1. Berpegang teguh pada Al quran

  2. Mengikuti petunjuk Rasulullah SAW

  3. Yakin pada ideologi Islam itu sendiri

Sejak pertama kali islam masuk di Indonesia, agama Alloh tersebut membawa berbagai perubahan ke arah baik. Sungguh sangat ironis bila keterlibatan islam di dalam membangun negeri ini hanya sebagi buah bibir, kita sebagai umat islam jangan malu dengan keislaman kita, tetapi justru berbangga diri bahwa kemerdekaan Indonesia juga merupakan hasil memperjuangkan agama Alloh ini.

Kemudian, pembicara yang ketiga yakni Bpk Tiar Anwar Bachtiar. Beliau menyampaikan tentang peta pergulatan kaum muda Islam, sedangkan saya disini akan sekelumit saja menjelaskan tentang era saat ini.

Peta baru pemikiran kaum muda islam:

  • Wacana-wacana tradisionalis-modernis sudah semakin tenggelam, kecuali di akar rumput sebagai akses sosialisasi terlambat

  • Embrio generasi baru islam di kampus dan organisasi pelajar, pemuda dan mahasiswa telah tumbuh menjadi aktor baru.

  • Kecenderungan pemikiran pada umumnya terpolarisasi pada dua domain: sekulaer liberal (pembaharuan) dan dakwah (fundamentalis)

Nasionalisme dalam perspektif Al-Banna, Khomeini, An-Nadawi Imam Hassan Al-Banna, adalah pengasas pergerakan Ikhwanul Muslimin. Beliau pernah merasakan hidup derita di bawah penjajahan Barat. Maka bertitik tolak kondisi demikian, wujud semacam perasaan revolusioner dalam dirinya untuk membebaskan Mesir dari belenggu penjajahan British. Lantas, melalui Ikhwanul Muslimin, beliau menyemarakkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat Mesir untuk bangkit mencantas kolonialisme British melalui usaha diplomatik dan berbagai siri demostrasi di atas berbagai isu seperti; konflik Palestin-Israel, eksploitasi terusan Suez dan pengaruh budaya Barat yang kian menular di sekitar Kaherah. Alternatif dari moqawama (penentangan) Al-Banna adalah bertujuan untuk menegakkan negara Islam dengan tiga teras kenegaraannya; tanggungjawab pemerintah melindungi kepentingan rakyat, wehdatul ummah dalam ikatan keagamaan dan penghormatan hak rakyat oleh pemerintah. Inilah tiga tawaran Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin kepada rakyat Mesir bagi mengantikan sistem penjajah yang diamalkan oleh monarki Mesir pada ketika itu (Siddiq Fadhil 1999: 14). Di sepanjang liku kehidupannya, Al-Banna telah memperlihatkan kematangan dan kebijaksaan sebagai seorang pemimpin besar. Beliau adalah pemimpin yang dilahirkan untuk ummah (born for Ummah).

2 thoughts on “Nasionalisme Pemuda Dalam Kerangka Keislaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s