Mencari ketenangan di balik tabir kehidupan…

Ah sudah lama sekali rasanya aku tak menulis lagi serpihan pengalamanku yang kujalani bak kuda mustang yang sedang berlari kencang. Rasanya memang kesibukan ini memaksaku meinggalkan dunia tulis menulis blok untuk sesaat. Sibuk dalam organisasi, sibuk akademis maupun sibuk “membina” dan sibuk memperbaiki diri tentunya. Masih luar biasa bersyukur diri ini masih bias disibukan dalam kebaikan bagi sesama dan umat. Engkau yang tidak disibukan dalam kebaikan secara otomatis engkau akan sibuk pada keburukan. Hmm, rasanya pas sekali menulis di hari sabtu siang ini, diiringi lantunan musik instrumental yang menenangkan hati. Panasnya udara diluar seakan tak mampu menjangkau kulitku yang kini berada dikamar. Hari ini saja sudah terasa capek dan seakan pikiran ini ingin sekali, selalu membawaku ke kata istirahat. Apalagi dalam semester ini beberapa target yang kupasang cukup berat ditambah jadwal kuliah yang cukup padat 25 sks yang semuanya terdiri dari 3 sks mata kuliah masih ditambah dengan kegiatan-kegiatan diluar.

Terlepas sesaat dari semuanya ingin ku tuangkan sedikit yang ada di pikiran ini tentang ketenangan hidup yang selama ini kucari-cari. Apa sebenarnya arti ketenangan ini?, Inilah yang selalu dicari-cari oleh semua orang ketenangan yang dalam bahasa arab berarti sakinah. Dengan kata lain ketika kita mendoakan suatu pasangan pengantin agar sakinah adalah agar keluargan yang dibinanya menjadi tenang dan menenangkan. Disadari atau tidak, dari pengalaman selama ini, ketenangan tidak bisa diperoleh dari kesenangan hidup, ketenangan dapat kita rasakan manakala kita mengalami saat-saat kegetiran hidup lalu engkau menyadari Alloh ada disampingmu dan engkau meyakini-Nya sepenuh hati. Engkau akan merasakan ketenangan yang luar biasa pada dirimu seakan kau tak ada masalah lagi dan senang sekali hatimu. Semua tahu hidup seseorang itu mengalir mengikuti pola lika-liku garis takdir yang tlah terukir semenjak kita belum lahir menuju ke haribaan Al Qadir. Maka dari itu, kunci ketenangan adalah bagaimana kita dalam menghadapi takdir yang senantiasa kita lewati. Apakah itu sebelum takdir datang, ketika maupun sesudahnya.

Hal yang harus kita lakukan ketika sebelum takdir adalah bersabar, sabar menanti rejeki, sabar menanti jodoh, sabar menanti karunia Alloh yang lain. Dan ketika takdir itu datang jadilah ikhlas terhadap apa yang ada apa yang tersurat karena tiadalah apa yang terjadi pada diri tanpa kehendak Alloh. Yang ketiga ketika kita sudah mengalami takdir ialah pasrah terhadap apa yang terjadi. Allohualam Bishowab.

Sarana ketenangan

Sabar, ikhlas dan pasrah ialah cara terbaik untuk menikmati takdir dalam rupa apapun, yang insyaAlloh akan melahirkan ketenangan dalam jiwa ini. Cobalah tengok diluar jendela, belajarlah dari alam, Alloh sudah mencipta alam ini yang sarat akan makna kehidupan. Sarat akan nilai-nilai kehidupan yang setiap saat bias kita petik buahnya. Ketidaktenangan dalam menjalani takdir akan menjadikan kita orang yang selalu was-was, takut melangkah dan mengambil resiko. Percayalah pada diri sendiri, sibuklah mempersiapkan diri bagi hadirnya takdir terbaik. Kita dituntut selalu berdiri di depan gerbang takdir kehidupan, didepan waktu kehidupan. Jangan pernah sisakan sedikitpun waktu kita kosong tanpa adanya perbuatan baik disana.

Pikiran yang baik adalah pikiran yang jernih, sejernih embun yang setiap hari hadir menemani mentari naik dari peraduannya dibelahan bumi lain (belajar dari embun). Pikiran ini menyadari dan memahami bahwa apapun yang terjadi adalah atas izin Alloh Azza wa Jala. Pikiran iinilah yang akan melahirkan sabar  yang pada lanjutannya akan menghadirkan ikhlas dalam hati dan pada akhirnya menjadi pasrah dalam qalbu kirta terhadap segala ketetapan Alloh.

Bermula dari pikiran, perasaan lalu perbuatan. YAKIN TIADALAH SEORANG HAMBA YANG SEDANG DISUSAHKAN OLEH ALLOH KECUALI DIA SEDANG DIRENCANAKAN OLEH ALLOH MENJADI PRIBADI YANG BESAR.!!

SALAM KETENANGAN!

TKI menanti keadilan dari Negara

Belum selesai persoalan buruh di dalam negeri, TKI yang diluar negeri pun menjerit meminta perhatian dari pemerintah atas segala permasalahannya. Tak ayal berbagai permasalahan TKI silih berganti menjejali pemberitaan di sejumlah stasiun berita. Bisa dikatakan bahwa yang terjadi terhadap TKI adalah wujud kegagalan pemerintah dalam melindungi warga negaranya dan terlebih lagi tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas dari pemerintah. Sebagai pengemban amanah konstitusi tentunya pemerintah menyadari tanggung jawab moral untuk melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia baik di dalam negeri maupun di dalam negeri, sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 D ayat (2) UUD NRI 1945 bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja dan Pasal 28 I ayat (2) bahwa Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Ketidakmampuan dalam menyelesaikan permasalahan ini sama saja dengan pengingkaran terhadap Undang-Undang Dasar.

Selama ini -di mata dunia internasional- Indonesia sudah dicap sebagai negara yang melakukan social dumping dengan praktik buruh murah dan patuh yang di kirim ke berbagai negara tanpa adanya perlindungan yang jelas terhadap keberlangsungan kehidupan TKI tersebut di negeri orang. Seolah negara melakukan pengorbanan terhadap warga negaranya dengan mengirim ke negara lain tanpa pelatihan dan perlindungan yang memadai. Banyak pihak termasuk LSM yang bergerak dalam advokasi buruh,  menyebut hal ini tak ubahnya perdagangan manusia model baru dengan legitimasi negara didalamnya. Kalau berkaca pada realitanya, masih banyak  TKI yang ke negara lain dengan tidak memiliki dokumen (ilegal) yang tak jarang malah menimbulkan permasalahan sendiri di negara tujuan karena banyak diantaranya yang melakukan perbuatan kriminal untuk bertahan hidup dan ujung-ujungnya masuk ke penjara atau diakhiri dengan tembak mati oleh petugas keamanan negara tersebut. Ibarat kata, mereka hanya pergi dengan pertaruhan kematian, kalau sukses akan sangat menguntungkan dan kalaupun gagal maka akan pulang ke asalnya hanya dengan jasad tanpa nyawa. Sungguh sangat memilukan.

Perlindungan Hukum

Pemerintah sering berkilah telah melakukan berbagai upaya perlindungan TKI-nya dengan berbagai cara termasuk meratifikasi Konvensi ILO tentang TKI dan diterbitkannya UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Namun, keberadaan peraturan tersebut nyatanya belum juga mendatangkan ketenangan bagi TKI dalam bekerja di luar negeri. Selain dengan peraturan tersebut negara juga melakukan perjanjian bilateral dengan negara lain dalam kaitannya dengan TKI, namun sayangnya dengan perjanjian ini pun tidak menemui titik cerah. Indonesia sebagai negara pengirim tentunya akan sulit mencari celah dalam diplomasi pembuatan perjanjian tersebut karena posisi tawar yang lebih rendah sehingga mudah bagi negara tujuan untuk memaksakan kepentingannya.

Baru-baru ini pemerintah bersama DPR telah meratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 tentang Perlindungan Seluruh Hak-hak  Buruh Migran dan Anggota Keluarganya, yang akan jadi pedoman perbaikan sistem perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Dengan konvensi tersebut Indonesia melalui DPR dapat merevisi UU No. 39 Tahun 2004, agar bisa harmonis dalam pengaturan perlindungan hukum TKI dengan Hukum Internasional. Semoga saja, Konvensi yang baru ini dapat menjadi senjata baru pemerintah dalam menjalankan fungsi perlindungannya terhadap TKI.

Perombakan Sistem

Segala upaya perlindungan ditempuh pemerintah dalam perlindungan TKI, namun disini akan ditegaskan lagi bahwa permasalah sebenarnya ada pada pemerintah dalam hal ini Kemenakertrans. Dengan adanya berbagai kepentingan ekonomi disana-sini menyebabkan kontrol dan pengawasan menjadi lemah. Perombakan sistem harus dimulai dengan political will yang kuat dari pemerintah untuk menininjau ulang alur sistem penempatan TKI dari fase pra, selama dan pemulangan. Apakah sudah sesuai yang aturan yang ada atau hanya law in the book, aturan kosong tanpa adanya penegakan hukum.

Upaya terakhir yang masih mungkin menjadi alternatif pemerintah adalah terkait moratorium  pengiriman TKI ke luar negeri. Masalah TKI bukan hanya tentang daerah atau etnis tertentu, lebih dari itu masalah TKI adalah masalah kemanusiaan. Semoga saja apa yang diharapkan Presiden dalam diakhir pidatonya di ILO terwujud, “Let us work together, to bring about the best possible conditions for the workers of the world. Let us join hands, to make this a new era of social justice.”

 

 

Tak heran jika PSS Sleman punya suporter yang top-top, dari kecil aja sudah diajari.hahaha

@Gelora Futsal, Sambilegi, Sleman, YK

Apapun dalam pengetahuan-Nya…

Suatu sore, di kos-kosan kawan ku duduk santai di teras lantai dua. Menikmati semilir angin dingin yang berhembus sejuk melewati kepalaku. Ah. Santai, tenang, dan nyaman rasanya ketika angin itu datang menyapa diri ini yang sudah penat akan semua persoalan duniawi, di sore hari yang berselimut awan merah berpendar indah nian di ufuk barat yang disambut suara burung yang baru saja pulang dalam petualangannya mengais rejeki Alloh. Sore ini rasanya berbeda, sore ini seperti mengajak merenung akan setiap peristiwa yang pernah terlewati susah senang tawa canda semua terangkai menjadi kenangan apik yang berjasa membentuk pribadi ini menjadi aku yang sekarang.

Dibawah kulihat orang sedang berlalu-lalang dengan segala urusannya.

Tak selang berapa lama datang angin kedua, lebih cepat. Kali ini ia menyambar sebuah pohon di depan rumah. Hasilnya disela pepohonan satu persatu daun berguguran, rontok meninggalkan dahan yang ditempelinya semenjak keluar dari batang. Inilah yang kemudian sedari tadi menarik pikiranku untuk berpikir ada sesuatu yang bisa kita ambil. Lihatlah berapa jumlah daun yang rontok. Tentu banyak. Apa yang gugur adalah yang hijau, bukan kebanyakan adalah yang sudah menguning sampai kering. Berpikir dan merenung lebih dalam untuk mengartikan semua ini. Ingatlah dalam penciptaan dan penghancuran apa yang ada di langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berilmu. Dan tidak ada kesia-siaan dalam setiap penciptaan.

Semua terencana

Nyanyian alam yang belum terurai arti ini, tiba-tiba disusul dengan nyanyian bacaan Al Quran dari salah satu kamar disamping. Tak sengaja sampailah bacaannya pada Surah Al An’am. Ternyata salah satu ayat disana ada potongan ayat yang menggambarkan tentang daun yang tadi kulihat. …dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya… (Al An’am: 59). Hati ini berdesir, ah sejak kapan aku lupa ayat ini. Nampaknya inilah jawaban yang mungkin bisa mengertikan peristiwa tadi. Sampailah kepada ayat ini tentang pengetahuan Alloh tentang semua gerak kehidupan seluruh benda dan terlebih lagi makhluk yang terkena taklif, baik dari kalangan jenis jin maupun manusia. Sehubungan dengan kisah pohon ini, Ibnu Abu Hatim berkata bahwa tak ada sebuah pohon pun melainkan ada malaikat yang diperintahkan untuk menjaganya. Malaikat itu mencatat daun-daun yang gugur dari pohon itu.[1]

Dunia seluas ini, pada setiap harinya bisa terjadi banyak sekali daun gugur bahkan dalam satu waktu yang sama pun terdapat banyak sekali daun gugur bersamaan dan semua itu ada dalam sepengetahuan Alloh SWT. (Subhanalloh, bisikku dalam hati). Baik dari hal kecil dan sepele ini pun Ada dalam rencana Alloh. Dan memang kalau kita telusuri lebih lanjut dengan dasar keimanan akan ada keyakinan intervensi Alloh dalam setiap langkah kita. Maka buat apa takut berbuat yang benar. Inilah salah satu akar dari pemahaman tentang Syajaah, berani. Berani hidup, berani berbuat benar walau pahit, berani malawan hawa nafsu. Karena dalam keyakinan Alloh selalu bersama kita.

Semua sudah dikehendaki

Kesadaran seperti inilah yang harus selalu kita camkan dan hayati dengan baik di setiap episode drama hidup ini. Karena tujuan kita bukanlah semata-mata dunia ini, ada yang lebih indah, lebih abadi dan lebih kita sukai tentunya yakni di akherat kelak dengan hadiah surga, yang sering dalam bahasa Al Quran menggambarkan mengalir dibawahnya sungai sungai dan kita akan kekal didalamnya. Berada di masa perkuliahan semester ini banyak yang ingin dicapai, banyak pengembangan diri yang ingin dijalani, namun kadang sadar bahwa diri ini bukan hanya milik diri, tapi juga milik ummat. Masih banyak hal yang perlu dikerjakan, yang sering tertutup oleh ego pribadi, untuk kebaikan ummat. Sudah beberapa tahun ini terlibat dalam berbagai kegiatan, bakti sosial, syuro, dan kerja-kerja jamaah lainnya. Semakin lama keterlibatan yang semakin dalam menghendaki kita, bahwa semua yang dikerjakan semakin mendekati kesempurnaan dari banyak segi.

Dan rasanya diri ini memang tak akan bisa sempurna melakukan semuanya dengan baik, banyak keterbatasan yang menghendaki berbeda dari ekspektasi awal yang direncanakan. Ada satu keyakinan bahwa sesuatu yang ‘sempurna’ terkadang mengundang bahaya. Justru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya.” Ingatlah kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidzir tatkala melubangi kapal yang sempurna untuk melayar menghantarkan angkutannya yang sudah siap dikemasi. Hingga berlubangnya kapal malah membawa manfaat dengan dijauhkan dari mara bahaya. Semua Sudah Dikehendaki.

Kerja-kerja kebaikan yang kita tanam selagi muda tak akan pernah ada kesiaan didalamnya, karena pada akhirnya apa yang kita tuai adalah apa yang kita tanam entah dengan berbagai bentuknya kebaikan itu akan kembali kepada kita. Bersabar dan ikhlas menjalani setiap takdir malah akan membuat kita lebih tenang walau dalam setiap perjuangan banyak onak duri yang senantiasa mengintai Abu daud Beureuh, Imam NII kedua pernah berkata: “Hendaknya kamu ikhlas dalam berjuang. bila kesuksesan manyertaimu, maka ummat akan ikut menikmati hasil perjuanganmu. Tapi bila gagal dan musibah menimpamu, janganlah manyusahkan ummat dengan keluhan-keluhanmu. Sabar dan tabahlah menghadapinya sendirian. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar”[2]

Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, “Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehormatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezhaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah.”[3]

 

Rasulullah bersabda: “Para Nabi, kemudian orang-orang seperti mereka. Seseorang diuji dengan tingkat keagamaannya, jika agamanya kuat maka ujiannya pun berat dan jika agamnya tidak kuat maka ia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian tidak meninggalkan seorang hamba, hingga ujian membiarkannya berjalan diatas bumi tanpa dosa”

 

 


[1] Tafsir Ibnu Katsir jilid 7, Surah Al An’am

[2] Irfan S Awwas, Jejak Jihad S.M Kartosuwiryo.

[3] Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang